<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243</id><updated>2012-02-16T23:37:57.249+08:00</updated><category term='Al Qur&apos;an'/><category term='Fiqh'/><category term='Umum'/><category term='Biografi'/><category term='Aqidah'/><category term='Akhlak'/><category term='Nasihat'/><title type='text'>Tholibul 'Ilmi ( طالب العلم )</title><subtitle type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Al 'ilmu qobla qouli wal 'amal  العلم قبل القول والعمل&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-1640660176262270030</id><published>2010-11-08T16:15:00.000+08:00</published><updated>2010-11-08T16:15:39.334+08:00</updated><title type='text'>Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah &amp; Panduan Iedul Qurban</title><content type='html'>Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah &amp; Panduan Iedul Qurban&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah سبحانه وتعلى, salam dan salawat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم serta shahabat-shahabat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil tentang keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Firman Allah سبحانه وتعلى&lt;br /&gt; وَالْفَجْر  وَلَيَالٍ عَشْر  الفجر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebahagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh”  adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah سبحانه وتعلى atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan Zaadul Maad 1:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?” Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)&lt;span id="fullpost"&gt;3. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad  -rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil  لا إله إلا الله, Takbir الله أكبر dan Tahmid  الحمد لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath Radhiyallahu Anhu beliau berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Hari yang paling afdhal / utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)”  (HSR. Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika seseorang bertanya :”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya,   maka   sepuluh   terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan Yang Disyariatkan Pada Hari-hari Tersebut&lt;br /&gt;1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau beberapa hari diantaranya (sesuai kesanggupan) terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah سبحانه وتعلى dari amalan-amalan shalih lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasululllah صلى الله عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim) Khusus tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda” Berpuasa di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsiran dari “Hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah . Oleh kerena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut” (HSR. Ath Thabrany)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallahu Anhu ketika keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua berakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua (R. Bukhari) Dan Ishaq bin Rahowaih –rahimahullah- meriwayatkan dari para ahli fiqh dari kalangan tabi’in bahwa mereka –rahimahumullah- mengucapkan pada hari-hari tersebut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ َاللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika di pasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya, Allah سبحانه وتعلى berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; …وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan berakbir kepadaNya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu…” (QS. Al Baqarah :185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu diperhatikan bahwa takbir tidak boleh dilakukan secara berjama’ah yaitu  berkumpul-kumpul lalu bertakbir secara serempak, karena hal tersebut tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, namun hendaknya setiap orang bertakbir, bertahmid dan bertasbih dengan apa saja yang mudah  baginya secara sendiri-sediri. Dan cara seperti ini berlaku pula pada seluruh jenis dzikir dan do’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah سبحانه وتعلى. Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah سبحانه وتعلى, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah سبحانه وتعلى kepada seseorang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan  lebih  utama  dan  lebih dicintai oleh Allah سبحانه وتعلى dari pada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya, jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid. Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji maka dimulai sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Memotong hewan qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim Alaihissalam  ketika Allah سبحانه وتعلى mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi  صلى الله عليه وسلم berqurban dengan dua komba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai  dia  berqurban,  diriwayatkan dari Umu Salamah, Rasulullah  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menuyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya” Diriwayat lain disebutkan:”Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan larangan tersebut untuk menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebaelum qurban sampai di termpat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengabil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah سبحانه وتعلى dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, alat-alat yang melalaikan(seperti alat-alat musik) minuman keras dan yang semacamnya. Karena perbuatan-perbuatan seperti itu  bisa menjadi penyebab terhapusnya amal-amal shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut .&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dari seluruh yang telah dipaparkan dan dijelaskan di atas maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim dan muslimat untuk memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan kepada Allah سبحانه وتعلى memperbanyak dzikir dan syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi seluruh larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian Allah سبحانه وتعلى yang dengannya kita meraih keridhaan-Nya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Semoga Allah سبحانه وتعلى senantiasa menujuki kita kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperi ini dengan baik, Amin yaa Rabbal ‘Alamin&lt;br /&gt;-Muh. Yusran Anshar, Lc-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ : Risalah Fadhlu Ayyam Al’Asyr Min Dzilhijjah, Asy Syekh Abdulllah  bin Abdirrahman Al Jibrin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panduan Iedul Qurban&lt;br /&gt;‘Iedul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah shubhaana wa ta'ala bagi ummat Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam . Hal ini diterangkan dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu, beliau  berkata: Nabi shallallahu 'alahi wa sallam  datang, sedangkan penduduk Madinah di masa jahiliyyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda /aunul mabud), maka (beliau) bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang kepada kalian, sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya di masa jahiliyyah, kemudian Allah menggantikan untuk kalian du a hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari ‘Iedul Qurban dan hari ‘Iedul Fitri.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi, shahih, lihat Ahkamul Iedain hal. 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pada Hari Raya Qurban terdapat ibadah yang besar pahalanya di sisi Allah Shubhaanahu wa ta'ala  , yaitu shalat ‘Ied dan menyembelih hewan kurban.                                                            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’rif (pengertian) Udhiyah&lt;br /&gt;Udhiyah atau Dhahiyyah adalah nama atau istilah yang diberikan kepada hewan sembelihan (unta, sapi atau kambing) pada hari ‘Iedul Adha dan pada hari-hari Tasyrik  (11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka ibadah dan bertaqarrub kepada Allah Shubhaanahu wa ta'ala .          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil Disyariatkannya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’&lt;br /&gt;a. Dalil Al Qur’an&lt;br /&gt;Firman Allah Shubhaanahu wa ta'ala   :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (QS. Al Kautsar : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan berqurban dalam ayat ini adalah menyembelih udhiyah (hewan kurban) yang dilakukan sesudah shalat ‘Ied (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:505 dan Al Mughni 13:360)                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dalil As Sunnah&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu 'alahi wa sallam  berkurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau shallallahu 'alahi wa sallam  menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dalil Ijma’&lt;br /&gt;Seluruh kaum muslimin telah bersepakat tentang disyariatkannya (Lihat Al Mughni 13:360)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilah (Keutamaan)&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Bahwa Nabi shallallahu 'alahi wa sallam  bersabda bahwa menyembelih ( udhiyah)  adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah  shubhaana wa ta'ala  dari anak Adam (manusia) pada hari itu dan sangat cepat diterima oleh-Nya sampai diibaratkan, sebelum darah hewan sembelihan menyentuh tanah, namun riwayat ini lemah karena pada sanadnya ada Abu Al Mutsanna Sulaiman bin Yazid dan dia telah dilemahkan olah ulama-ulama hadits) (Lihat Takhrij Misyatul Al Mashobin 1:462)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian ulama telah bersepakat bahwa berkurban adalah ibadah yang paling utama (afdhal) dikerjakan pada hari itu dan dia lebih utama dari pada sekedar berinfaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : “Nabi shallallahu 'alahi wa sallam  telah melakukan udhiyah,demikian pula para khalifah sesudah beliau. Seandainya bersede-kah biasa lebih afdhal tentu mereka telah melakukannya”. Dan beliau berkata lagi : “Mangutamakan sedekah atas udhiyah akan mengakibatkan ditinggalkannya sunnah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam  ”. ( Al Mughni 13:362)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukummya&lt;br /&gt;Hukum Udhiyah adalah Sunnah Muakkadah (sangat ditekankan) bahkan sebagian ulama mewajibkan bagi yang mampu, namun pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan sunnah muakkadah dan dimakruhkan meninggalkannya bagi orang yang sanggup mengerjakannya – Wallahu A’lam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;“Tidak ada khabar yang shahih yang menunjukkan bahwa salah seorang dari shahabat memandang hukumnya wajib”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum sunnah ini bisa menjadi wajib oleh satu dari dua sebab berikut:   &lt;br /&gt;-Jika seseorang bernadzar untuk berkurban.             &lt;br /&gt;-Jika ia telah mengatakan ketika membeli (memiliki) hewan tersebut: “Ini adalah hewan udhiyah (kurban)” atau dengan perkataan yang semakna dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Qurban&lt;br /&gt;-Taqarrub (pendekatan) kepada Allah shubhaana wa ta'ala               &lt;br /&gt;-Menghidupkan sunnah Ibrahim  dan semangat pengorbanannya  &lt;br /&gt;-Berbagi suka kepada keluarga, kerabat, sahaya dan fakir miskin             &lt;br /&gt;-Tanda kesyukuran kepada Allah shubhaana wa ta'ala atas karunia-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam  bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari-hari ini adalah hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah shubhaana wa ta'ala  ”    (HR. Muslim)                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Hewan yang dijadikan Udhiyah&lt;br /&gt;Udhiyah tidak sah kecuali pada unta, sapi dan kambing :&lt;br /&gt;1. Unta minimal 5 tahun                                 &lt;br /&gt;2. Sapi minimal 2 tahun                               &lt;br /&gt;3. Domba minimal 6 bulan                                     &lt;br /&gt;4. Kambing biasa minimal 1 tahun                          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak mengapa menyembelih hewan yang telah dikebiri, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abu Rafi radhiyallahu 'anhu  bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam  menyembelih dua ekor domba yang berwarna putih bercampur hitam yang sudah dikebiri (HR. Ahmad).Apalagi hewan yang telah dikebiri lebih baik dan lebih lezat.                    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Udhiyah&lt;br /&gt;Merupakan syarat dari udhiyah adalah bebas dari aib/ cacat. Karenanya tidak boleh menyembelih hewan yang memiliki cacat, diantaranya :       &lt;br /&gt;1.Yang sakit dan tampak sakitnya                  &lt;br /&gt;2.Yang buta sebelah dan tampak pecaknya     &lt;br /&gt;3.Yang pincang dan tampak kepincangannya  &lt;br /&gt;4.Yang sangat kurus sehingga tidak bersumsum lagi&lt;br /&gt;5.Yang hilang sebahagian besar tanduk atau telinganya      &lt;br /&gt;6.Dan yang termasuk tidak pantas untuk dijadikan udhiyah adalah yang pecah  atau tanggal gigi depannya, yang pecah selaput tanduknya, yang buta, yang mengitari padang rumput namun tidak merumput dan yang banyak kudisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Penyembelihan&lt;br /&gt;Penyembelihan dimulai seusai shalat ‘Iedul Adha hingga akhir  dari  hari-hari tasyrik yaitu sebelum terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dan sebagian ulama memandang waktu terakhir berkurban adalah terbenamnya matahari pada tanggal 12 Dzulhijjah -Wallahu A’lam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al Baro’ bin Azib radhiyallahu 'anhu , Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang pertama kali dilakukan pada hari (‘Iedul Adha) ini adalah shalat, kemudian kita pulang lalu menyembelih (udhiyah). Barangsiapa yang melakukan seperti ini maka telah sesuai dengan sunnah kami dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka sembelihan itu hanyalah daging untuk keluarganya dan tidak termasuk nusuk (ibadah)” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a yang dibaca Saat Menyembelih&lt;br /&gt;“ Bismillahi Allahu Akbar” (Dengan nama Allah, Allah Yang Maha Besar)&lt;br /&gt;Dan boleh ditambah :&lt;br /&gt;“Allahumma Hadza Minka Walaka Allahumma Hadza An.......”&lt;br /&gt;Ya Allah, sembelihan ini dari-Mu dan bagi-Mu. Ya Allah sembelihan ini atas nama ……(menyebutkan nama yang berkurban)” (HSR. Abu Daud)      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan Udhiyah yang afdhal&lt;br /&gt;1. Seekor unta dari satu orang&lt;br /&gt;2. Seekor sapi dari satu orang              &lt;br /&gt;3. Seekor domba dari satu orang&lt;br /&gt;4. Seekor kambing biasa dari satu orang&lt;br /&gt;5. Gabungan 7 orang untuk seekor unta&lt;br /&gt;6. Gabungan 7 orang untuk seekor sapi                                      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Hal Yang Berkenaan Dengan Udhiyah&lt;br /&gt;- Jika seseorang menyembelih udhiyah maka amalan itu telah mencakup pula seluruh anggota keluarganya (R. Tirmidzi dan Malik dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Boleh bergabung tujuh orang pada satu udhiyah yang berupa unta atau sapi (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan untuk membagi udhiyah menjadi tiga bagian : Sepertiga buat yang berkurban, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga disedekahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dibolehkan memindahkan hewan kurban ketempat atau negeri lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak boleh menjual kulit dan daging sembelihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak boleh memberikan kepada penjagal (tukang sembelih) upah dengan daging tersebut dan hendaknya upah dari selainnya (R. Muslim dari Ali radhiyallahu 'anhu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Disunnahkan juga bagi yang mampu untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya .                           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Barang siapa yang bermaksud untuk berkurban maka dilarang baginya memotong kuku dan rambutnya atau bulu yang melekat dibadannya sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah  (HR. Muslim). Namun jika ia memotongnya, maka tidak ada kaffarah (tebusan) baginya namun hendaknya ia beristigfar kepada Allah shubhaana wa ta'ala, dan hal ini tidak menghalanginya untuk berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hendaknya menyembelih dengan pisau, parang (atau sejenisnya) yang tajam agar tidak menyiksa hewan sembelihan                                              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Seorang wanita boleh menyembelih hewan kurban&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barang siapa yang tidak sanggup untuk berkurban maka ia mendapat pahala –Insya Allah- karena Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam telah berkurban atas namanya dan atas nama kaum muslimin yang tidak mampu untuk berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:                                                     &lt;br /&gt;1. Fiqh As Sunnah, Asy Syekh Sayyid Sabiq             &lt;br /&gt;2. Al mughni, Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy                 &lt;br /&gt;3. Ahkamul ‘Iedain, Asy Syekh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al Atsary &lt;br /&gt;www.wahdah.or.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-1640660176262270030?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/1640660176262270030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/11/keutamaan-10-hari-pertama-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1640660176262270030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1640660176262270030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/11/keutamaan-10-hari-pertama-bulan.html' title='Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah &amp; Panduan Iedul Qurban'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-1293609859814010521</id><published>2010-09-20T14:45:00.001+08:00</published><updated>2010-09-20T14:45:23.154+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Apakah Pelaksanaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal Harus Berurutan</title><content type='html'>Berkaitan dengan puasa enam hari bulan Syawal selepas Ramadhan, apakah harus dilakukan secara berurutan? Ataukah boleh melakukannya secara terpisah-pisah (tidak berurutan)?&lt;br /&gt;Masalahnya saya ingin mencicilnya sebanyak dua hari selama tiga tahapan, yakni pada waktu libur di akhir pekan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal tidak mesti berurutan. Seseorang boleh saja melakukannya secara terpisah. Namun semakin cepat tentunya semakin bagus. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berlomba-lombalah kamu dalam mengerjakan kebaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersegeralah menuju ampunan dari Rabbmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah menceritakan penuturan Nabi Musa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridho (kepadaku)". (QS. 20:84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banyak sekali kerugian dari menunda-nunda amal. Itulah pendapat yang dipilih oleh ulama madzhab Syafi'i dan sebagian ulama madzhab Hambali. Namun juga tidak ada larangan mengulurnya. Ia boleh mengulurnya hingga pertengahan bulan atau bahkan akhir bulan.&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;Rekan-rekan kami berkata: Sunnat hukumnya mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Berdasarkan hadits di atas (yaitu hadits yang telah disebutkan beliau sebelumnya). Dan dianjurkan melakukannya secara berurutan di awal bulan Syawal. Namun boleh saja ia lakukan secara terpisah (tidak berurutan) di akhir bukan Syawal. Ia tetap terhitung melakukan sunnah Nabi. Berdasarkan hadits Nabi yang umum dan mutlak tersebut. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, dan itulah pendapat yang dipilih oleh Imam Ahmad dan Dawud Az-Zhahiri.&lt;br /&gt;Silakan lihat Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-1293609859814010521?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/1293609859814010521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/09/apakah-pelaksanaan-puasa-enam-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1293609859814010521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1293609859814010521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/09/apakah-pelaksanaan-puasa-enam-hari.html' title='Apakah Pelaksanaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal Harus Berurutan'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-2994292955274582632</id><published>2010-09-20T14:35:00.001+08:00</published><updated>2010-09-20T14:35:51.749+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal</title><content type='html'>Apa hukumnya puasa enam hari bulan Syawal, apakah wajib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."&lt;br /&gt;(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun."&lt;br /&gt;(H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.&lt;br /&gt;Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud&lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-2994292955274582632?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/2994292955274582632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/09/keutamaan-puasa-enam-hari-bulan-syawal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2994292955274582632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2994292955274582632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/09/keutamaan-puasa-enam-hari-bulan-syawal.html' title='Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-2296664965812978283</id><published>2010-05-03T10:44:00.002+08:00</published><updated>2010-05-03T10:44:57.958+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>tegar sampai akhir</title><content type='html'>Lelaki itu setidaknya telah menghadapi cobaan dari  empat khalifah sekaligus. Di antara keempatnya ada yang mengancam dan menteror; ada yang memukul dan memasukkannya ke penjara; ada yang menggiring dan berlaku kasar kepadanya; dan yang terakhir mengiminginya kekuasaan dan harta benda. Namun semua itu hanya semakin menjadikannya tegar di jalan ALLAH سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;Demikianlah memang. Dan begitulah seharusnya jalan kehidupan paara pembesar yang menjadi panutan. Mereka adalah pemilik cita-cita mulia. Dan demi cita-cita itu mereka menganggap enteng semua rintangan, meremehkan semua rasa sakit. Karna itu, kita selalu melihat mereka memiliki iradah yang kuat, berkemauan baja, memiliki energi yang konstan, tidak gampang larut oleh bujukan, serta tidak mudah lesu dengan berbagai rintangan yang menghadang. Padahal kalau mau, mereka bisa saja bergeser sedikit saja dari ketinggian cita-cita dan pasti gelar kebesaran tetap disandangnya. Tapi mereka tahu persis bukan gelar kebesaran itu yang manjadikan mereka mulia di sisi Rabbnya. Apa arti semua gelar kebesaran itu kalau hanya akan menyesatkan ummat yang berqudwah kepada mereka dan yang pasti mereka akan dicampakkan dalam kehinaan di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Begitulah memang selalu keadaan para pemilik cita-cita mulia. Sebab yang senantiasa tergambar dalam benak mereka adalah keabadian akhirat. Disanalah jiwa-jiwa mereka terpaut, disanalah kerinduan mereka senantiasa tertambat. Itulah sebabnya, mereka selalu mengganggap enteng dunia ini beserta segala pernak-perniknya. Ketika mereka berada dalam keadaan sulit, kerinduan mereka justru semakin membuncah. Dunia dalam pandangannya hanyalah sekedar wasilah untuk meraih akhirat. Dunia mungkin hadir dalam keseharian mereka; dunia mungkin mengalir begitu deras melalui tangannya; bahkan mungkin dunia dating memohon agar ia bias ‘bersemayam’ dalam kehidupan mereka. Tapi, jika itu semua bias memalingkan mereka dari cita-cita mulianya, maka mereka tidak segan mengatakan selamat tinggal kepada dunia.&lt;br /&gt;Dan memang inilah yang dialami oleh imam Ahmad bin Hambal رحمه الله, lelaki agung itu. Setelah beliau diteror dengan ancaman hukuman mati oleh al-Ma’mum, disiksa oleh al-Mu’tashim, dan diasingkan oleh al-Watsiiq karna mempertahankan pendapatnya bahwa Al Qur’an adalah kalaamullah,  maka datanglah al-Mutawakkil membawa ‘teror’ yang lain.  Meski khalifah ini tidak mentoror dan menyiksanya, namun ini cukup ‘menggusarkan’ beliau. Betapa tidak, setelah terror dan siksaan tidak membuatnya bergeming dari pendapatnya, al-Mutawakkil justru dating member ‘dunia’ kepada beliau. Bukan agar beliau merubah pendapatnya, tapi sebagai bentuk kompensasi sang khalifah atas perbuatan zhalim para pendahulunya.&lt;br /&gt;Akhirnya suatu ketika di kala beliau memenuhi panggilan khalifah. Beliau diberi baju, uang dirham dan mantel oleh al-Mutawakkil, namun beliau justru menangis seraya berkata, “sejak enam puluh aku bias selamat dari ini semua, akan tetapi di penghujung usiaku, Engkau menguji aku dengan ini”. Bahkan begitu beliau mendengar salah seorang putranya membangun rumah dari uang pemberian al-Mutawakkil, beliau tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah itu sampai beliau wafat. Tentu, tidak ada yang keliru dari pemberian itu, namun begitulah selalu pemilik himmatul’aliyah. Obsesi akhirat mereka selalu berhasil memadamkan kemilau dunia yang menyilaukan. Rahmatullah ‘alaihi rahmatan waasi’ah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-2296664965812978283?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/2296664965812978283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/05/tegar-sampai-akhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2296664965812978283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2296664965812978283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2010/05/tegar-sampai-akhir.html' title='tegar sampai akhir'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-723154234473112058</id><published>2009-12-30T21:19:00.000+08:00</published><updated>2009-12-30T21:19:03.892+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Puasa Sunnah dan Manfaatnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kewajiban memiliki nafilah (sunnah) yang dapat mempertahankan keberadaan kewajiban tersebut serta menyempurnakan kekurangannya. Shalat lima waktu misalnya, memiliki shalat-shalat sunnah baik sebelum atau sesudahnya. Demikian juga dengan zakat, yang memiliki shadaqah sunnah. Haji dan umrah merupakan hal yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup, sedangkan selebihnya adalah sunnah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puasa pun demikian, puasa wajib dikerjakan pada bulan Ramadhan sedangkan puasa yang sunnah banyak sekali, di antaranya: Puasa sunnah yang tidak pasti, seperti puasa bagi orang yang belum mampu menikah. Ada pula puasa sunnah yang ditentukan misalnya puasa enam hari di bulan Syawwal. Keutamaan puasa ini adalah bahwa siapa yang mengerjakan nya setelah puasa Ramadhan, maka seakan-akan dia telah berpuasa sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seperti berpuasa ad-dahar (sepanjang tahun)." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain puasa enam hari bulan Syawwal, masih ada puasa-puasa sunnah yang lainnya, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Tiga Hari Setiap Bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Tiga hari dalam setiap bulan (hijriyah), serta dari Ramadhan ke Ramadhan, semua itu seolah-olah menjadikan pelakunya berpuasa setahun penuh." (HR. Ahmad dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa kekasihnya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah mewasiatkan tiga perkara kepadanya, di antaranya adalah puasa selama tiga hari dalam setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling utama, puasa tiga hari tersebut dilakukan pada ayyamul bidh (hari-hari putih/terang, yakni malam-malam purnama) pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya. Dasarnya adalah hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari pada setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i di dalam as-Sunan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa 'Arafah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, "Dia (puasa Arafah) menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula disunnahkan berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Asyura'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa Asyura' (puasa tangggal 10 Muharram), maka beliau menjawab, "Dia menghapuskan dosa tahun yang lalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula secara umum puasa di bulan Muharrram, sebagaimana terdapat di dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, maka beliau menjawab,&lt;br /&gt;"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Bulan Sya'ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai puasa bulan Sya'ban ini, telah disebutkan di dalam ash-Shahihain dari Aisyah xberkata, "Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti yang dilakukannya pada bulan Sya'ban."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam riwayat yang lain, "Beliau banyak berpuasa pada bulan itu, kecuali hanya sedikit hari-hari (beliau berbuka) di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Senin Kamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin maka beliau bersabda,&lt;br /&gt;"Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai Nabi, atau hari diturunkannya al-Qur'an kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga puasa Senin dan Kamis. (HR. Lima Imam ahli hadits, kecuali Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalku ditampakkan pada saat aku sedang berpuasa." (HR at-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Nabi Dawud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang puasa Nabi Dawud ini terdapat dalam riwayat al-Bukhari bahwa Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Demi Allah aku akan berpuasa pada siang hari dan bangun pada malam hari terus menerus selama hidupku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal tersebut, karena itu berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, berpuasalah engkau tiga hari dalam setiap bulannya, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa ad-Dahr (sepanjang tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mendengar jawaban dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, "Sesungguhnya aka mampu melakukan yang lebih baik daripada itu. Maka beliau bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah (tidak berpuasa) dua hari." Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu menjawab, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari, yang demikian itu adalah puasa Dawud, puasa tersebut adalah puasa yang paling baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada yang lebih baik daripada puasa tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGARUH PUASA SUNNAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa sunnah dapat dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb-Nya, karena membiasakan diri berpuasa di luar puasa Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal perbuatan, insya Allah. Hal ini karena Allah subhanahu wata’ala jika menerima amal seorang muslim maka dia akan memberikan petunjuk kepadanya untuk mengerjakan amal shalih setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Puasa Ramadhan yang dikerjakan seorang muslim untuk Rabbnya dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala, akan menyebabkan seorang muslim mendapatkan ampunan atas dosa-dosa sebelumnya. Orang yang yang berpuasa akan mendapatkan pahala pada hari Idul Fithri, karena hari itu merupakan hari penerimaan pahala. Maka puasa setelah berlalunya Ramadhan merupakan bentuk rasa syukur terhadap nikmat ini, bagi hubungan seorang muslim dengan Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Puasa sunnah merupakan janji seorang muslim untuk Rabbnya bahwa ketaatan itu akan terus berlangsung dan tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, bahwa kehidupan ini secara keseluruhannya adalah ibadah. Dengan demikian puasa itu tidak berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi puasa itu terus disyari'atkan sepanjang tahun. Maha benar Allah subhanahu wata’ala yang telah berfirman,&lt;br /&gt;“Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. 6:162)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Puasa sunnah menjadi sebab timbulnya kecintaan Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya serta sebab terkabulnya doa, terhapusnya kesalahan-kesalahan, berlipatgandanya kebaikan kebaikan, tingginya derajat serta sebab keberuntungan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Makruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puasa-puasa yang dimakruhkan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Puasa Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;* Puasa hari Jum’at saja.&lt;br /&gt;* Puasa hari Sabtu saja.&lt;br /&gt;* Puasa hari terakhir dari bulan Sya’ban, kecuali jika bertepatan dengan puasa yang telah bisa dilakukan seperti puasa Senin Kamis.&lt;br /&gt;* Puasa ad-Dahr, jika berbuka pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Jika tetap berpuassa maka hukumnya adalah haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Yang Diharamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puasa yang dilarang adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Puasa dua hari raya.&lt;br /&gt;* Puasa hari-hari tasyriq&lt;br /&gt;* Puasa saat haid dan nifas bagi wanita&lt;br /&gt;* Puasa sunnah bagi wanita jika suami melarangnya.&lt;br /&gt;* Puasa orang sakit yang jika berpuasa membahayakan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber (dengan meringkas):&lt;br /&gt;1. Meraih Puasa Sempurna, Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar, Pustaka Ibnu Katsir.&lt;br /&gt;2. Majelis Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Pustaka Imam asy-Syafi’i. (kholif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(alsofwah.or.id) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-723154234473112058?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/723154234473112058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/12/puasa-sunnah-dan-manfaatnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/723154234473112058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/723154234473112058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/12/puasa-sunnah-dan-manfaatnya.html' title='Puasa Sunnah dan Manfaatnya'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-4270879695590378283</id><published>2009-10-14T21:35:00.000+08:00</published><updated>2009-10-14T21:35:01.804+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Menggapai Kesucian Jiwa Dengan Berwudhu</title><content type='html'>Kita sudah sering menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Sudah berapa kali kita mendapatkan teguran dari Allah, melalui musibah, penyakit dan lainnya? Begitu juga, betapa banyak kita telah membaca ayat-ayat Allah? Akan tetapi, mengapa hati kita tidak tergetarkan oleh itu semua? Bahkan kita tetap merasa tidak terpanggil untuk kembali kepada Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidakkah kita berpikir walau hanya sejenak, mengapa hati kita sedemikian keras? Mengapa jiwa kita sedemikian kaku? Bukankah Allah Ta'ala telah berfirman, yang artinya: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian menjadi lunak/tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Ia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. (Qs az-Zumar/39:22-23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Inilah kriteria orang-orang yang baik ketika mendengar firman Allah Yang Maha Perkasa, Maha Menguasai, Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Ini terjadi karena mereka dapat memahami berbagai janji dan ancaman yang terkandung di dalamnya. Kulit mereka menjadi tergetar, karena merasa takut.¨1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, kita juga sering kali mudah merasa tergoda dan terjerumus ke dalam kubangan maksiat. Seakan-akan, kita tak kuasa menahan diri darinya. Sampai-sampai kita sering berkata, berat bagi saya untuk meninggalkan pacaran, melirik wanita, merokok, makan riba, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tahukah, wahai saudaraku, bahwa ini semua karena pengaruh dari jiwa kita yang telah kaku dan dipenuhi noda-noda?! Pada suatu hari, ada seorang pemuda datang menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Spontan ia berkata: "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina" Mendengar permintaan pemuda ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersikap arif, tidak berang ataupun murka. Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan kepadanya tentang kedudukan zina, selanjutnya beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya," maka setelah itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong). (Riwayat Ahmad, ath-Thabrani, al-Baihaq, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat ini, kita dapat menyimpulkan, yang membuat pemuda itu berpikiran dan berkeinginan buruk, ialah karena hatinya yang kurang suci. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam mendoakan agar Allah melimpahkan kepadanya kesucian dalam hatinya. Ini menunjukkan, betapa besar peranan hati yang suci bagi keistiqamahan seseorang. Sedemikian pentingnya kesucian jiwa, hingga Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam merasa perlu untuk mengajarkan kepada para sahabat agar berdoa memohon kesucian jiwa kepada Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, limpahkanlah kepada jiwaku ketakwaan dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau adalah sebaikbaik Dzat yang mensucikan jiwa. (Riwayat Muslim, dan lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh as-Sa'di berkata: Kesucian jiwa merupakan sarana demi tercapainya segala kebaikan; sebagaimana jiwa yang suci, ia merupakan penyeru terbesar kepada setiap ucapan yang baik dan amalan yang benar.2 Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Allah Ta'ala berfirman tentang ahlul kitab dan orang-orang munafik, yang artinya: ...Mereka itulah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Bagi mereka kehinaan di dunia dan bagi mereka di akhirat siksa yang besar. (Qs. al-Maidah/5:41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari ini semua, saya mengajak saudaraku seiman dan seakidah untuk bersama-sama berjuang menggapai kesucian jiwa. Dan di antara salah satu metode yang sangat efektif untuk mensucikan jiwa, ialah dengan berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wudhu merupakan ibadah yang sangat agung, bukan hanya mensucikan dari najis atau hadats saja, tetapi juga dapat mensucikan jiwa. Agar wudhu dapat berperan secara benar dalam mensucikan jiwa, maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Sebelum Berwudhu Bersihkan Jiwa dari Noda Syirik dan Kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa syirik, baik syirik akbar (besar) maupun asghar (kecil), keduanya merupakan noda besar yang mengotori jiwa manusia. Tidak ada yang dapat membersihkan noda syirik dan kemunafikan selain tauhid (mengesakan Allah) dan ikhlas dalam beramal, termasuk ketika berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa manfaat berwudhu, bila ternyata batin ternoda najis yang berupa syirik, riya, sum'ah, 'ujub ataupun kemunafikan? Walaupun berwudhu berkali-kali, akan tetapi, bila noda syirik tetap melekat dalam jiwa, maka kita tidak akan pernah suci. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Allah Ta'ala mengharamkan orang-orang yang berjiwa najis (orang-orang musyrik) untuk memasuki kota Mekkah. Firman Allah, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil-Haram sesudah tahun ini. (Qs. at-Taubah/9:28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Allah Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan yang suci agama dan lahirnya, untuk mengusir orang-orang musyrikin yang agamanya najis dari Masjidil-Haram, agar mereka tidak mendekatinya setelah diturunkannya ayat ini".3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebelum berwudhu, hendaklah kita menata kembali jiwa dan niat, sehingga kita dapat menggapai dua kesucian sekaligus. Yaitu kesucian jiwa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Wudhu Membebaskan Kita dari Cengkeraman Setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala upayanya, setan senantiasa berusaha menodai dan menguasai jiwa kita agar tunduk kepada setiap bisikannya. Dia selalu mengincar kesempatan untuk dapat sampai kepada hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ketika kita sedang tidur, setan bergegas mencari celah agar dapat menguasai jiwa kita. Di antaranya dengan mengikatkan tiga ikatan pada kepala kita, agar tetap terlelap tidur dan tidak mudah terjaga ketika dikumandangkan seruan untuk shalat. Sebagaimana setan juga bersiaga dengan bermalam di dalam hidung kita, menunggu kesempatan untuk dapat masuk ke dalam hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara metode yang diajarkan Islam untuk menghadapi makar setan ini, ialah dengan berwudhu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam mengingatkan kita, yang artinya: Setan senantiasa mengikatkan tiga ikatan di pangkal kepala kalian, bila ia sedang tidur. Setan menepuk pada setiap ikatan, sambil berkata: "Malam masih panjang, maka tidurlah". Bila ia terjaga lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan akan terurai. Bila ia berwudhu, maka satu ikatan lagi akan terurai. Bila ia shalat, maka satu ikatan lagi akan terurai; sehingga pada pagi itu, ia akan menjadi bersemangat (energik) dan berjiwa baik; dan bila ia tidak melakukan hal itu, maka jiwanya menjadi buruk dan pemalas. (Muttafaqun 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila salah seorang dari kalian terjaga dari tidurnya, maka hendaknya ia memasukkan air ke dalam hidungnya lalu ia mengeluarkannya kembali, karena sesungguhnya setan bermalam di dalam hidungnya. (Muttafaqun 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi 'Iyadh berkata: 'Yang dimaksud dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sesungguhnya setan bermalam di dalam hidungnya', bisa saja benar-benar setan berada dalam hidungnya; karena hidung merupakan salah satu lubang badan yang dapat menghubungkan ke hati kita, terlebih tidak ada lubang badan yang tidak bertutup selain hidung dan kedua telinga. Dan dalam hadits disebutkan, setan tidak dapat membuka sesuatu yang tertutup, sebagaimana kita diperintahkan untuk menahan (mulut agar tidak terbuka) ketika menguap, untuk mencegah masuknya setan melalui mulut kita.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Wudhu Dapat Membersihkan Dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa dan khilaf, sesuatu hal yang sering kita lakukan. Akan tetapi, yang jarang kita lakukan ialah menyesali dan bertaubat dari kekhilafan tersebut. Setiap perbuatan dosa, baik besar maupun kecil, ia merupakan noda yang mengotori jiwa. Bila kita terusmenerus melakukan dosa dan tidak bertaubat, lambat lahun jiwa kita akan mati. Bila jiwa seseorang telah mati -na'uzubillah min dzalik- maka ia tidak akan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesunggunya bila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi satu titik hitam di hatinya. Bila ia bertaubat, berhenti dan beristrighfar, maka hatinya akan kembali cemerlang. Akan tetapi bila ia mengulang kembali, maka hatinya akan berkerak, hingga (suatu saat hatinya akan tetutup dengannya. Itulah yang Allah 'Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab- Nya: 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka'" (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, al-Hakim, al- Baihaqi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan dosa-dosa yang sering kita lakukan, dan demikian pula peranan taubat dan istighfar dalam menjaga kesucian jiwa. Dan ternyata, bukan hanya istighfar saja yang dapat menjaga kebersihan jiwa kita dari noda dosa. Ada banyak hal yang dapat berfungsi membersihkan jiwa kita dari noda-noda kemaksiatan, di antaranya ialah wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah seseorang dari kalian yang mengambil air wudhunya, kemudian ia berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali, melainkan dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya akan berguguran bersama. Kemudian bila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang Allah perintahkan, maka dosa-dosa wajahnya akan berguguran melalui ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua tangan hingga kedua sikunya, maka kesalahan tangannya akan berguguran melalui ujung jemarinya bersama tetesan air. Kemudian bila ia mengusap kepalanya, maka kesalahan kepalanya akan berguguran melalui ujung rambutnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua kaki hingga kedua mata kakinya, maka dosa kakinya akan berguguran melalui ujung jemari kakinya bersama tetesan air. Lalu bila ia bangun dan shalat, dan ketika shalat ia memuji Allah, menyanjung, dan mengagungkan-Nya dengan pujian yang sesuai dengan Allah, serta ia penuhi seluruh hatinya hanya untuk Allah (khusyu'), melainkan ia akan terbebas dari dosanya, seperti tatkala ia dilahirkan oleh ibunya. (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, peranan wudhu dalam membersihkan noda-noda kemaksiatan yang dapat mengotori jiwa kita. Andai ketika hendak berwudhu, kita terlebih dahulu bertaubat dari segala dosa, niscaya peranan wudhu dalam membersihkan jiwa akan lebih sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat. Berkesempatan Minum dari Telaga Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kita, pasti mendambakan bisa mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan berkesempatan minum dari telaga beliau. Dan pada saat itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak akan mengizinkan kepada selain umatnya minum dari telaga tersebut. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkan kita berpikir, bagaimanakah caranya agar dapat dikenal oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sehingga diizinkan oleh beliau minum dari telaganya? Padahal seluruh manusia dan jin dari zaman Nabi Adam 'Alaihisallam hingga manusia terakhir dikumpulkan di tempat yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita ingin mengetahui caranya agar dapat dikenal oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam? Bila kita benar-benar menginginkannya, maka perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telagaku lebih luas dibanding jarak antara Ailah (terletak di perbatasan antara Mesir dengan Syam/Palestina) dengan kota 'Adn (Yaman). Telagaku lebih putih dibanding salju, lebih manis dibanding madu yang dicampur dengan susu. Bejananya lebih banyak dibanding jumlahnya bintang. Dan aku akan menghalang-halangi orang lain, layaknya seseorang yang menghalang-halangi onta orang lain (agar tidak minum) dari telaganya". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kala itu engkau dapat mengenali kami?" Beliau menjawab: "Ya, kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh siapapun dari umat-umat lain. Kalian datang kepadaku dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kedua kaki kalian bercahaya karena bekas berwudhu". (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima. Tinggikan Derajat Anda Dengan Berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah, merupakan orang-orang yang telah berhasil merealisasikan iman dalam jiwa dan raganya. Sehingga, tidaklah ia berperilaku dan bertutur kata melainkan dengan hal-hal yang diridlai Allah. Dan semua itu merupakan cerminan dari kesucian jiwanya. Allah berfirman, yang artinya: Sesungguhnya barang siapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman lagi sungguh-sungguh telah beramal shalih, maka mereka itu orang-orang yang memperoleh derajat-derajat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga 'Aden, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang-orang yang telah mensucikan dirinya (dari kekafiran dan kemaksiatan). (Qs. Thaha/20:75-76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila membaca ayat ini, niscaya harapan kita kian menyala untuk dapat menggapai kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah, yaitu berupa surga 'Adn, tempat tinggal orangorang yang telah mensucikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, wudhu dapat menghantarkan kita kepada derajat yang tinggi nan mulia di sisi Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sudikah kalian aku tunjukkan kepada suatu hal, yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?" Spontan para sahabat menjawab: "Tentu, ya Rasulullah" Rasulullah bersabda: "Menyempurnakan wudhu walau dalam keadaan susah (karena dingin, atau panas atau sakit atau lainnya,Pen.), banyak melangkahkan kaki ke masjid, menantikan (datangnya waktu shalat) selepas menunaikan shalat, maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah)". (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita telah memahami kelima kiat di atas, mungkin kita akan lebih mudah untuk memahami sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berikut: "Barang siapa yang berwudhu, dan ia menyempurnakan wudhunya, lalu ia berdoa: 'Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang layak untuk diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci' niscaya akan dibukakan untuknya kedelapan pintu surga (semuanya), dan ia dipersilahkan untuk masuk dari pintu manupun yang ia kehendaki". (Riwayat at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mubarakfuri berkata: "Dikarenakan taubat itu adalah kesucian batin dari noda-noda dosa, sedangkan wudhu adalah kesucian lahir dari hadats-hadats yang menghalangi seseorang dari mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala, maka sangat tepat bila orang yang berwudhu menggabungkan keduanya dalam doa".5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku seiman dan seakidah! Andai setiap berwudhu, kita menghadirkan berbagai hikmah dan pelajaran agung di atas, niscaya atas izin Allah- kesucian jiwa akan mudah kita gapai. Cobalah saudaraku, bila anda hendak berwudhu untuk sholat atau lainnya, hadirkanlah hikmah-hikmah di atas ke dalam niat (batin), agar anda dapat merasakan betapa indahnya kesucian jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, uraian singkat ini bermanfaat bagi saya dan anda, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kita dapat mensucikan jiwa yang penuh dengan noda dosa dan maksiat. Wallahu a'lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1 Tafsir Ibnu Katsir, 4/51-52.&lt;br /&gt;2 Tafsir as-Sa’di, 231.&lt;br /&gt;3 Tafsir Ibnu Katsir, 2/347.&lt;br /&gt;4 Syarah Shahih Muslim, oleh Imam an-Nawawi, 3/127.&lt;br /&gt;5 Tuhfatul-Ahwazi, oleh al-Mubarukfuri, 1/150.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Majalah As-Sunnah Edisi 4 Tahun XII 1429 H &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-4270879695590378283?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/4270879695590378283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/10/menggapai-kesucian-jiwa-dengan-berwudhu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4270879695590378283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4270879695590378283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/10/menggapai-kesucian-jiwa-dengan-berwudhu.html' title='Menggapai Kesucian Jiwa Dengan Berwudhu'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-3436234808213312064</id><published>2009-06-08T13:51:00.001+08:00</published><updated>2009-06-08T13:56:23.536+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya : Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya</title><content type='html'>Allah Ta’ala telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya untuk berilmu dan membekali diri dengannya. Demikian pula Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) rahimahullaah menyebutkan lebih dari seratus keutamaan ilmu syar’i. Di buku ini penulis hanya sebutkan sebagian kecil darinya. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Kesaksian Allah Ta’ala Kepada Orang-Orang Yang Berilmu&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali ‘Imran: 18]&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat di atas Allah Ta’ala meminta orang yang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang sangat agung untuk diberikan kesaksian, yaitu keesaan Allah Ta’ala... Ini menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ayat di atas juga memuat rekomendasi Allah tentang kesucian dan keadilan orang-orang yang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah hanya akan meminta orang-orang yang adil saja untuk memberikan kesaksian. Di antara dalil yang juga menunjukkan hal ini adalah hadits yang masyhur, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap-tiap generasi. Mereka akan memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (yang melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta), dan takwil orang-orang bodoh.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang yang berilmu dan beriman. Allah Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujaadilah : 11] [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berilmu dan mengamalkannya, maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Sufyan bin ‘Uyainah (wafat th. 198 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para Nabi dan ulama.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun telah berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” [Yusuf: 76]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan bahwa tafsir ayat di atas adalah bahwasanya Kami (Allah) mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki dengan sebab ilmu. Sebagaimana Kami telah mengangkat derajat Yusuf ‘alaihis salaam di atas saudara-saudaranya dengan sebab ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah apa yang diperoleh oleh Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam berupa pengetahuan (ilmu) terhadap Al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dengannyalah Allah Ta’ala mengangkatnya kepada-Nya, mengutamakannya serta memuliakannya. Demikian juga apa yang diperoleh pemimpin anak Adam (yaitu Nabi Muhammad) shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa ilmu yang Allah sebutkan sebagai suatu nikmat dan karunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [An-Nisaa’: 113] [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Orang Yang Berilmu Adalah Orang-Orang Yang Takut Kepada Allah&lt;br /&gt;Allah mengabarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala, bahkan Allah mengkhususkan mereka di antara manusia dengan rasa takut tersebut. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” [Faathir: 28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah itu disebut sebagai ilmu. Dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut sebagai suatu kebodohan.” [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullaah berkata, “Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.” [9] Apabila seseorang bertambah ilmunya, maka akan bertambah rasa takut-nya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Ilmu Adalah Nikmat Yang Paling Agung&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa nikmat dan karunia-Nya atas Rasul-Nya (Nabi Muhammad) shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan menjadikan nikmat yang paling agung adalah diberikannya Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan Allah mengajarkan beliau apa yang belum diketahuinya.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [An-Nisaa’: 113] [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur-an) dan yang sepertinya (As-Sunnah) bersamanya...” [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Faham Dalam Masalah Agama Termasuk Tanda-Tanda Kebaikan&lt;br /&gt;Dalam ash-Shahiihain dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan (wafat th. 78 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah, sebagaimana orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia menjadikannya faham dalam masalah agama. Dan barangsiapa yang diberikan pemahaman dalam agama, maka Allah telah menghendaki kebaikan untuknya. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pemahaman (fiqh) adalah ilmu yang mengharuskan adanya amal. [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya adalah karena ilmu akan menuntunnya kepada ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.” [14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Orang Yang Berilmu Dikecualikan Dari Laknat Allah&lt;br /&gt;Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th. 57 H) radhi-yallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.’” [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]&lt;br /&gt;___________&lt;br /&gt;Foote Notes&lt;br /&gt;[1]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 21).&lt;br /&gt;[2]. Hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh al-‘Uqaily dalam adh-Dhu’afaa-ul Kabir (I/26), Ibnu Abi Hatim dalam al-Jarh wat Ta’dil (II/17) dan lainnya, dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman al-‘Adzry secara mursal. Untuk lebih jelas tentang takhrij hadits ini dapat dilihat dalam Irsyaadul Fuhuul fii Tashhiih Hadiitsil ‘Udul (hal. 11-35) karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilali.&lt;br /&gt;[3]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 26).&lt;br /&gt;[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 817).&lt;br /&gt;[5]. Dinukil dari al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 220-221).&lt;br /&gt;[6]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 223).&lt;br /&gt;[7]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 238-239), dengan ringkas.&lt;br /&gt;[8]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir (no. 8927) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ (II/812, no. 1514).&lt;br /&gt;[9]. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 52).&lt;br /&gt;[10]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 30).&lt;br /&gt;[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/131), Abu Dawud (no. 4604), Ibnu Hibban (no. 12) dan lainnya, dari Miqdam bin Ma’di Kariba radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/306, II/234, IV/92, 95, 96), al-Bukhari (no. 71, 3116, 7312), dan Muslim (no. 1037), dari Shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;[13]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 49).&lt;br /&gt;[14]. Syarah Shahiih Muslim lil Imam an-Nawawi (VII/128).&lt;br /&gt;[15]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/135, no. 135), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmidzi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-3436234808213312064?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/3436234808213312064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/06/keutamaan-ilmu-syari-dan-mempelajarinya_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3436234808213312064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3436234808213312064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/06/keutamaan-ilmu-syari-dan-mempelajarinya_08.html' title='Keutamaan Ilmu Syar&apos;i Dan Mempelajarinya : Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-4084628437083222867</id><published>2009-06-08T13:40:00.001+08:00</published><updated>2009-06-08T13:43:54.332+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya : Ilmu Lebih Baik Daripada Harta</title><content type='html'>Allah Ta’ala telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya untuk berilmu dan membekali diri dengannya. Demikian pula Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) rahimahullaah menyebutkan lebih dari seratus keutamaan ilmu syar’i. Di buku ini penulis hanya sebutkan sebagian kecil darinya. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]. Menuntut Ilmu Adalah Jihad Di Jalan Allah Dan Orang Yang Menuntut Ilmu Laksana Mujahid Di Jalan Allah Ta’ala&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, maka ia laksana orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” [1]&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah mengatakan, “Jihad melawan hawa nafsu memiliki empat tingkatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: berjihad untuk mempelajari petunjuk (ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar (amal shalih). Seseorang tidak akan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: berjihad untuk mengamalkan ilmu setelah mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: berjihad untuk mendakwahkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: berjihad untuk sabar dalam berdakwah kepada Allah Ta’ala dan sabar terhadap gangguan manusia. Dia menanggung kesulitan-kesulitan dakwah itu semata-mata karena Allah.&lt;br /&gt;Apabila keempat tingkatan ini telah terpenuhi pada dirinya, maka ia termasuk orang-orang yang Rabbani. [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi mencari ilmu tidak termasuk jihad, sungguh, ia kurang akalnya.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjihad dengan hujjah (dalil) dan keterangan didahulukan atas jihad dengan pedang dan tombak. Allah berfirman kepada Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar berjihad dengan Al-Qur-an melawan orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur-an dengan jihad yang besar.” [Al-Furqaan: 52]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik dengan cara menyampaikan hujjah (dalil dan keterangan).&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Jihad dengan hujjah (dalil) dan keterangan didahulukan atas jihad dengan pedang dan tombak.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]. Pahala Ilmu Yang Diajarkan Akan Tetap Mengalir Meskipun Pemiliknya Telah Meninggal Dunia&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Shahiih Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu serta besarnya buah dari ilmu. Sesungguhnya pahala ilmu tetap diterima oleh orang yang bersangkutan selama ilmunya diamalkan orang lain. Seolah-olah ia tetap hidup dan amalnya tidak terputus. Ini disamping kenangan dan sanjungan yang dialamatkan kepadanya. Tetap mengalirnya pahala untuk dirinya pada saat pahala amal perbuatan telah terputus dari manusia adalah kehidupan kedua baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan ketiga hal di atas yang pahalanya tetap diterima oleh si mayit karena ia (si mayit) adalah penyebab keberadaan ketiga hal tersebut. Karena ia menjadi sebab terbentuknya anak shalih, shadaqah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya. Seorang hamba mendapatkan pahala karena tindakannya langsung atau tindakan yang dilahirkan (tindakan tidak langsung) darinya. Kedua prinsip ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu ialah karena mereka (para Mujahidin) tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [At-Taubah: 120]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua hal di atas lahir dari tindakan mereka dan tidak ditakdirkan bagi mereka. Yang ditakdirkan bagi mereka ialah sebab-sebabnya yang mereka lakukan secara langsung. Maksudnya, bahwa haus, payah, lapar, dan membangkitkan amarah musuh bukanlah karena (sengaja) mereka lakukan demikian, lalu ditulis jadi amal shalih. Akan tetapi, hal ini timbul dari perbuatan mereka (yaitu jihad fi sabilillaah) karena itu ditulis bagi mereka sebagai amal shalih. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]. Dengan Menuntut Ilmu, Kita Akan Berfikir Yang Baik, Benar, Mendapatkan Pemahaman Yang Benar, Dan Dapat Mentadabburi Ayat-Ayat Allah&lt;br /&gt;‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullaah mengatakan, “Memikirkan nikmat-nikmat Allah termasuk ibadah yang paling utama.” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur-an dengan tadabbur dan tafakkur. Karena hal itu mengumpulkan semua kedudukan orang yang berjalan kepada Allah, keadaan orang-orang yang mengamalkan ilmunya, dan kedudukan orang-orang yang bijaksana. Hal inilah yang mewariskan rasa cinta, rindu, takut, harap, kembali kepada Allah, tawakkal, ridha, penyerahan diri, syukur, sabar dan segala keadaan yang dengannya hati menjadi hidup dan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam membaca Al-Qur-an dengan tadabbur, maka ia akan lebih menyibukkan diri dengannya daripada selainnya. Apabila ia melewati ayat yang dibutuhkannya untuk mengobati hatinya, maka ia akan mengulang-ulangnya meskipun sampai seratus kali, walaupun ia menghabiskan satu malam. Membaca Al-Qur-an dengan memikirkan dan memahaminya lebih baik daripada membacanya sampai khatam tanpa mentadabburi dan memahaminya, lebih bermanfaat bagi hati dan lebih membantu untuk memperoleh keimanan dan merasakan manisnya Al-Qur-an. Membaca Al-Qur-an dengan memikirkannya adalah pokok kebaikan hati. [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan al-Bashri rahimahullaah mengatakan, “Al-Qur-an diturunkan untuk diamalkan, maka jadikanlah membacanya sebagai salah satu pengamalannya.” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15]. Ilmu Lebih Baik Daripada Harta&lt;br /&gt;Keutamaan ilmu atas harta dapat diketahui dari beberapa segi:&lt;br /&gt;Pertama: Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan orang-orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Ilmu akan menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta menjaga hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Ilmu adalah penguasa atas harta, sedangkan harta tidak berkuasa atas ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Harta akan habis dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu akan bertambah jika diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Apabila meninggal dunia, pemilik harta akan berpisah dengan hartanya, sedangkan ilmu akan masuk bersamanya ke dalam kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Harta dapat diperoleh orang-orang mukmin maupun kafir, orang baik maupun orang jahat. Sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya dapat diperoleh orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh: Orang yang berilmu dibutuhkan oleh para raja dan selain mereka, sedangkan pemilik harta hanya dibutuhkan oleh orang-orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan: Jiwa akan mulia dan bersih dengan mengumpulkan ilmu dan berusaha memperolehnya -hal itu termasuk kesempurnaan dan kemuliaannya- sedangkan harta tidak membersihkannya, tidak menyempurnakannya bahkan tidak menambah sifat kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan: Harta itu mengajak jiwa kepada bertindak sewenang-wenang dan sombong, sedangkan ilmu mengajaknya untuk rendah hati dan melaksanakan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh: Ilmu membawa dan menarik jiwa kepada kebahagiaan yang Allah ciptakan untuknya, sedangkan harta adalah penghalang antara jiwa dengan kebahagiaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas: Kekayaan ilmu lebih mulia daripada kekayaan harta karena kekayaan harta berada di luar hakikat manusia, seandainya harta itu musnah dalam satu malam saja, jadilah ia orang yang miskin, sedangkan kekayaan ilmu tidak dikhawatirkan kefakirannya, bahkan ia akan terus bertambah selamanya, pada hakikatnya ia adalah kekayaan yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua belas: Mencintai ilmu dan mencarinya adalah pokok segala ketaatan, sedangkan cinta dunia dan harta dan mencarinya adalah pokok segala kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga belas: Nilai orang kaya ada pada hartanya dan nilai orang yang berilmu ada pada ilmunya. Apabila hartanya lenyap, lenyaplah nilainya dan tidak tersisa tanpa nilai, sedangkan orang yang berilmu nilai dirinya tetap langgeng, bahkan nilainya akan terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat belas: Tidaklah satu orang melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala, melainkan dengan ilmu, sedangkan sebagian besar manusia berbuat maksiat kepada Allah lantaran harta mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima belas: Orang yang kaya harta selalu ditemani dengan ketakutan dan kesedihan, ia sedih sebelum mendapatkannya dan merasa takut setelah memperoleh harta, setiap kali hartanya bertambah banyak, bertambah kuat pula rasa takutnya. Sedangkan orang yang kaya ilmu selalu ditemani rasa aman, kebahagiaan, dan kegembiraan.&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam. [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]&lt;br /&gt;___________&lt;br /&gt;Foote Notes&lt;br /&gt;[1]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 87-at-Ta’liiqaatul Hisaan), Ibnu Majah (no. 227), Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Abi Syaibah (no. 33061), dan al-Hakim (I/91), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;[2]. Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad (III/10). Lihat Syarah Tsa-latsatil Ushuul (hal. 25-26), karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah.&lt;br /&gt;[3]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 145).&lt;br /&gt;[4]. Syarah Qashidah Nuuniyyah (I/12) oleh Syaikh Muhammad Khalil Hirras.&lt;br /&gt;[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 38), Abu Dawud (no. 2880), an-Nasa-i (VI/251), at-Tirmidzi (no. 1376), Ahmad (II/372), al-Baihaqi (VI/ 278), lafazh ini milik at-Tirmidzi. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1580).&lt;br /&gt;[6]. Lihat al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 242-243).&lt;br /&gt;[7]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 254).&lt;br /&gt;[8]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 262).&lt;br /&gt;[9]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 263).&lt;br /&gt;[10]. Lihat kitab al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 160-163).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-4084628437083222867?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/4084628437083222867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/06/keutamaan-ilmu-syari-dan-mempelajarinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4084628437083222867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4084628437083222867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/06/keutamaan-ilmu-syari-dan-mempelajarinya.html' title='Keutamaan Ilmu Syar&apos;i Dan Mempelajarinya : Ilmu Lebih Baik Daripada Harta'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-1256247209415882908</id><published>2009-05-12T14:48:00.000+08:00</published><updated>2009-05-12T14:51:22.681+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur&apos;an'/><title type='text'>Kaidah-Kaidah dalam Menghafalkan Al-Qur’an</title><content type='html'>Al-Qur’an adalah kitab yang dijamin Allah subhanahu wa ta’ala akan selalau terjaga dari perubahan, penggantian, penambahan, dan pengurangan isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah sebagian dari kaidah-kaidah umum yang bisa membantu Anda untuk menghafal Al-Qur’an guna mendapatkan kedudukan yang agung sebagai seorang hafizh.&lt;br /&gt;• Membatasi Porsi Hafalan Setiap Harinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya seseorang yang hendak menghafal Al-Qur’an untuk membatasi hafalannya untuk setiap harinya. Misalnya, hanya beberapa ayat saja, satu halaman atau dua halaman dari Al-Qur’an, atau seperdelapan juz, dan seterusnya. Lalu, setelah membatasi hafalan dan membenarkan bacaan, mulailah dengan melakukan pengulangan (muraja’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sebaiknya Menghafa tidak Melebihi Batasan Harian, Sampai Anda Dapat Menghafalnya Secara Sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi hafizh Al-Qur’an, sebaiknya menghindari beralih kebatasan hafalan yang baru, kecuali ia telah menyempurnakan dengan baik batasan hafalan sebelumnya. Hal itu supaya apa yang telah dia hafal benar-benar terpatri ke otak.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;• Hindari Beralih ke Surat Lain Sebelum Anda Benar-benar Hafal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai selesai satu surat Al-Qur’an, tidak seharusnya bagi hafizh beralih ke surat lain, kecuali setelah ia menghafalnya secara sempurna dan mengikat antara awal dan akhir surat tersebut. Lisannya juga menghafalnya secara gampang dan mudah, tanpa bersusah payah mengingat-ingat ayat-ayat yang dihafal dan menyempurnakan bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Senantiasa Memperdengarkan Hafalan Anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi seorang hafizh tidak menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, ia sebaiknya memperdengarkan hafalannya kepada hafizh yang lainnya atau mencocokkannya dengan mushaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bertujuan supaya seorang hafizh mengetahui adanya kesalahan bacaannya atau adanya bacaan yang terlupakan sebab banyak dari kita salah dalam membaca sebuah surat dan tidak menyadarinya meskipun sambil melihat mushaf. Hal ini karena ia banyak membaca tetapi tidak teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Menfaatkanlah Usia Emas Untuk Menghafal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia tersebut adalah usia dari 5 tahun sampai kira-kira 23 tahun. Pada usia ini, kekuatan hafalan manusia sangat bagus. Bahkan ia merupakan tahun-tahun emas yang sangat berharga untuk menghafal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, Dr. Raghib As-Sirjani dan Dr. Abdurrahman Abdul Khaliq: Aqwam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-1256247209415882908?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/1256247209415882908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/05/kaidah-kaidah-dalam-menghafalkan-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1256247209415882908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1256247209415882908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/05/kaidah-kaidah-dalam-menghafalkan-al.html' title='Kaidah-Kaidah dalam Menghafalkan Al-Qur’an'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-6216366989577047737</id><published>2009-05-12T14:40:00.000+08:00</published><updated>2009-05-12T14:47:08.645+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al Qur&apos;an'/><title type='text'>Keutamaan Membaca Al-Qur’an</title><content type='html'>Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua cara seseorang di dalam membaca kitab Allah. Pertama, tilawah hukmiyyah, yaitu membenarkan segala berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafhzhiyyah atau qira’atul Qur’an, banyak sekali nash-nash yang menyebut keutamaannya. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Utsman bin Affan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahihain, disebutkan pula hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena pada hari Kiamat nanti dia akan datang sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, sedangkan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan-keutamaan ini meliputi seluruh kandungan isi Al-Qur’an. Banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan surat-surat tertentu, misalnya surat Al-Fatihah. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, “Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yaitu Alhamdulillaahi Rabbi l-‘alamiin (Al-Fatihah). Ini adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena keutamaannya itu, maka membacanya menjadi bagian dari rukun shalat. Shalat tidak akan menjadi sah tanpa membaca Al-Fatihah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat dalam Al-Qur’an lainnya yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah surat Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua buah awan atau seperti dua kawanan burung yang sedang terbang berbaris membela orang-orang yang biasa membacanya. Bacalah surat Al-Baqarah karena membacanya membawa berkah sedangkan meninggalkannya akan menyebabkan penyesalan. Surat ini tidak akan bisa dibaca oleh para tukang sihir.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat lainnya yang mempunyai keutamaan khusus adalah surat Al-Ikhlas. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, surat yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Falaq dan An-Nas, atau biasa disebut mu’awwidzatain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan pada hari ini yang belum pernah sebanding dengannya? Yaitu Qul ‘a’udzibi Rabbi l-falaq, dan Qul ‘a’udzubi Rabbi n-nas.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperbanyak bacaan Al-Qur’an yang penuh berkah, apalagi di bulan Ramadhan. Para Salafush Shalih dahulu selalu memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Imam Malik, jika Ramadhan tiba, maka beliau berhenti dari membaca hadits dan majelis-majelis ilmu (berhenti mengajar) untuk kemudian berganti membaca Al-Qur’an. Imam Qatadah selalu meng-khatam-kan bacaan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali, sedangkan pada bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Romadhon, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: Al-Qowam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-6216366989577047737?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/6216366989577047737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/05/keutamaan-membaca-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/6216366989577047737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/6216366989577047737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/05/keutamaan-membaca-al-quran.html' title='Keutamaan Membaca Al-Qur’an'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-3008966083440618648</id><published>2009-02-27T20:59:00.001+08:00</published><updated>2009-02-27T21:09:45.530+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Mahar termahal</title><content type='html'>Berlomba- lomba dengan tingginya mahar atau yang  lebih dikenal dengan istilah mas kawin telah menjadi hal biasa. Ada yang bermaskawinkan Al Qur’an, alat sholat, cincin emas, uang berjuta-juta rupiah, dan sebagainya. Banyak orang tua menjual putrinya kepada seseorang atas nama pernikahan. Dan pesta pernikahan pun telah menjadi sarana pemborosan dan kemubadziran luar biasa.&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa didalam sebuah pesta pernikahan, diletakkan koin emas dalam gelas-gelas yang berisi minuman, kemudian diumumkan pada para undangan wanita, lantas mereka pun makan dan minum. Mereka minum bukan karna haus, tetapi untuk mendapatkan koin emas tersebut.&lt;br /&gt;Bayangkan, mereka minum dengan semangat dan cepat seakan berlomba dalam menghabiskan gelas tersebut,siapa tahu dialah yang beruntung. Sungguh, ini merupakan sebuah pemandanagan yang menggelikan. Hal ini akan terus terjadi dan terjadi jika kita tidak mencegah diri kita darin pemborosan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja kita menuju ke inti cerita, siapakah wanita dengan mahar termahal di dunia. Ini adalah sebuah kisah keteladanan dengan penuh berkah terhadap Allah Subhanahu wata’ala.&lt;br /&gt;Tersebutlah seorang wanita, Ar-rumaidha binti Milhan, yang berjuluk Ummu Sulaim.  Ia telah menyelesaikan masa iddahnya setelah suaminya wafat. Maka datanglah Yazid din Sahal yang berjuluk Abu Thalhah untuk melamar, tetapi ia menolaknya. Mengapa? Padahal yazid adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari Bani Najjar, salah seorang pemanah ulung di kota yastrib. Apakah kejantanannya masih kurang? Ataukah dia bermuka jelek? Atau? Ternyata, penyebabnya adalah yazid seorang non muslim, alias kafir.&lt;br /&gt;  Sementara ia mengira ummu sulaim menginginkan emas dan perak, maka ia bertanya, “apakah kamu menginginkan emas dan perak?”. Ummu sulaim pun mejawab dengan jawaban seseorang yang bangga dengan agamanya. “Tidak. Akan tetapi, wahai Abu thalhah, tolong saksikan dan Allah beserta Rasul-nya juga menjadi saksi, bahwa jika engkau masuk islam, maka aku akan menerimamu tanpa emas dan perak, cukuplah Islammu itu sebagai mahar untukku”, jawab Ummu Sulaim. Setelah dialog singkat, Yazid berkata, “ siapa yang mununjukkanku kepada Islam?”, ummu sulaim  memjawab, “saya”. Yazid bertanya lagi, “bagaimana caranya?”. Ummu sulaim pun menjawab, “ucapkan Kalimatul Haq, engkau bersaksi bahwa tiada illah yang berhak disembah kecuali Allahسبحا نه و تعل   dan Muhammad adalah Rasulullah. Lalu pulanglah dan hancurkan berhalamu dan buanglah!”.&lt;br /&gt;Apakah kalian mengenal Abu Thalhah? Setelah keislamannya, ia ikut ambil bagian menjunjung derajat Rabbani ini. Ia termasuk orang yang paling teguh bersama Rasulullah سلم و  عليه الله صلى pada saat yang tersulit. Hal ini terjadi di putaran akhir perang uhud, ketika orang-orang berlari mundur dari sisi Rasulullah سلم و  عليه الله صلى, dimana yang tertinggal hanya sebagian dari sahabat. &lt;br /&gt;Dalam situasi inilah keteguhan orang-orang besar terukur. Salah satunya adalah Abu thalhah. Ia melindungi Rasulullah سلم و  عليه الله صلى  sementara punggungnya sebagai perisai hidup melawan kaum musyrikin. Orang-orang musyrik menghujani Rasulullah سلم و  عليه الله صلى dengan panah mereka, sementara Abu Thalhah menyambutnya dengan punggungnya, demi menjaga keselamatan Rasulullah سلم و  عليه الله صلى. Sehingga sebagian ulama sejarah berkata, “Punggung Abu Thalhah  seperti trenggiling, karna banyak anak panah yang menancap di punggung itu”.&lt;br /&gt;Sikap Abu Thalhah ini cukup bagi ummu sulaim, karna dengan karunia Allah dialah yang mencetak seorang lelaki sejati di tempat itu. Juga kebanggaan lain, ucapan kaum muslimin tentanggnya, “Kami tidak mendengar sekalipun mahar yang lebih mulia dari mahar Ummu sulaim.”&lt;br /&gt;Ya, sungguh Ummu sulaim telah mendapat mahar termahal yag dapat diraih oleh seorang muslimah, yaitu Islam. Tidak ada mahar yang lebih baik dari Islam. Ia telah mendapat mahar yang paling mulia yang seharusnya didambakan oleh para muslimah di muka bumi ini. Ia juga mendapat kebaikan dan pahala dari kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh Abu Thalhah, insya Allah. Sekarang siapa diantara saudariku yang ingin menyamai atau paling tidak mendekati Ummu Sulaim?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-3008966083440618648?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/3008966083440618648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/mahar-termahal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3008966083440618648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3008966083440618648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/mahar-termahal.html' title='Mahar termahal'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-8883168101787847281</id><published>2009-02-03T21:34:00.001+08:00</published><updated>2009-02-03T21:46:59.706+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Abu Bakar Al-Baihaqi</title><content type='html'>Nama beliau adalah Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa bin Al-Khazraujirdi Al-Khurasani Al-Baihaqi.&lt;br /&gt;Baihaq sebenarnya adalah sekumpulan desa yang berada di kawasan provinsi Naisabur. Antara Baihaq dan Naisabur adalah jarak dua hari perjalanan dengan unta. Al-Baihaqi dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 384 Hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahanya Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu As-Subki menceritakan proses pencarian ilmu yang ia lakukan sebagai berikut, “Al-Baihaqi melakukan haji. Lalu ia menuju Baghdad. Di sana, ia berguru kepada Hilal Al-Haffar, Abu Al-Husain bin Busyran, dan segolongan ulama lain. Selain belajar kepada ulama-ulama di Baghdad, ia juga belajar kepada ulama-ulama yang ada di Mekkah, seperti Abu Abdillah bin Nazhif, dan ulama-ulama lain yang ada di Irak, Hijaz, dan Al-Jibal. Jika dihitung, guru-gurunya lebih dari seratus orang.&lt;br /&gt;Hal ini tidak seperti yang dialami oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’I, dan Ibnu Majah. Khusus dalam bidang ilmu fiqh, ia berguru kepada Nashir Al-Umairi. Ia menyusun karya-karyanya setelah menjadi ulama yang paling ‘alim di zamannya, paling cerdas, paling cepat paham, paling baik akalnya. Kitab-kitab karyanya mencapai 1000 juz. Belum ada seorang pun yang bisa menandinginya dalam menyusun karya-karya seperti yang telah dicapainya tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Guru-gurunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Al-Baihaqi mendengarkan hadits dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Hasan Al-Alawi, Abu Abdillah al-Hakim, Abu Tharir bin Mahmasy, Abu Bakar bin Faurak, Abu Ali Ar-Raudzabari, Abdullah bin Yusuf bin Banawih, Abu Abdirrahman As-Silmi, sejumlah ulama di Khurasan, Hilal bin Muhammad Al-Haffar, Abu Al-Husain bin Busyrah, Ibnu Ya’qub Al-Iyadhi, sejumlah ulama Baghdad, Al-Hasan bin Farras di Makkah, Janah bin Nadzir, dan sejumlah ulama di Kufah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-muridnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzahabi mengatakan, “Murid-muridnya adalah Syaikh Al-Islam Abu Ismail Al-Anshari, Ismail bin Ahmad (anaknya), Abu Al-Hasan Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad (cucunya), Abu Zakariya Yahya bin Mandah Al-Hafizh, Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Ismail Al-Farisi, Abdul Jabbar bin Muhammad Al-Khawari, Abdul Hamid bin Muhammad Al-Khawari, Abu Bakar Abdurrahman Al-Buhairi An-Naisaburi yang meninggal pada tahun 540 Hijriah, dan sejumlah murid-murid lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-Karyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzahabi mengatakan, “Al-Baihaqi mendapatkan berkah dalam ilmunya. Ia telah menyusun banyak karya yang bermanfaat. Ia telah memutuskan untuk menetap di desanya dan menyibukkan diri dengan menyusun dan mengarang. Ia menyusun As-Sunan Al-Kabair sebanyak sepuluh jilid. Dalam hal ini, tidak ada seorang pun yang menyamainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Al-Baihaqi yang lain di antaranya yaitu As-Sunan wa Al-Atsar (empat jilid), Al-Asma’ wa Ash-Shifat (dua jilid), Al-Mu’taqad (satu jilid), At-Targhib wa Tarhib (satu jilid), Al-Khilafiyat (tiga jilid), Az-Zuhd (satu jilid), Nushush Asy-Sayafi’I (dua jilid), Dala’il An-Nubuwwah (empat jilid), As-Sunan Ash-Shaghir (satu jilid), Syu’ab Al-Iman (dua jilid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzahabi mengatakan, “Setelah orang-orang mendengarkan pemaparan ilmunya yang terakhir, ia kemudian sakit dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 10 Jumadal Ula tahun 458 Hijriah. Ia dimandikan, dikafankan, dan dimasukkan ke dalam peti untuk dipindah ke Baihaq, suatu tempat yang jauhnya dari Naisabur dua hari perjalanan unta. Ia hidup selama 74 tahun.”&lt;br /&gt;Sanjungan Ulama Terhadapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Taj As-Subki mengatakan, “Imam Al-Baihaqi adalah salah satu imam kaum muslimin, penunjuk kebenaran bagi kaum mukminin, dan da’I yang mengajak kepada tali Allah yang kukuh. Ia adalah seorang Al-Hafizh yang besar, ahli ushul yang cerdas, zuhud, wira’I, puas dengan Allah, dan membela mazhab baik dasar-dasar maupun cabang-cabangnya. Ia adalah gunung dari gunung-gunung ilmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;60 Biografi Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid: Pustaka Al-Kautsar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-8883168101787847281?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/8883168101787847281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/abu-bakar-al-baihaqi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8883168101787847281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8883168101787847281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/abu-bakar-al-baihaqi.html' title='Abu Bakar Al-Baihaqi'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-8141702619099448046</id><published>2009-02-03T21:30:00.001+08:00</published><updated>2009-02-03T21:34:01.914+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Imam Ath-Thabari</title><content type='html'>Nama dan Tempat Kelahirannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Imam Ath-Thabari adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib. Nama kunyah atau panggilannya adalah Abu Ja’far. Kelahirannya berdasarkan pendapat yang kuat adalah pada tahun 224 Hijriyah. Tempat kelahirannya di Amal, yaitu daerah yang subur di daerah Thabaristan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangatnya dalam Mencari Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ja’far mengisahkan tentang dirinya, “Aku telah hafal Al-Qur’an pada saat usiaku tujuh tahun, aku telah shalat bersama manusia diusia delapan tahun dan menulis hadits diusia sembilan tahun. Dahulu ayahku dalam tidurnya melihat Rasulullah dan diriku membawa sekeranjang batu sedang bersama beliau. Dalam tidurnya, ayahku seolah melihat diriku sedang melempar batu dihadapan Rasulullah. Lalu ahli tafsir mimpi berkata kepada ayahku, ‘Sesungguhnya anak ini (Abu Ja’far Ath Tahabari), kelak jika dewasa akan memelihara syari’atnya.’ Dari mimpi itulah, akhirnya ayahku membiayai diriku mencari ilmu. Padahal pada waktu itu aku baru kanak-kanak yang masih kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktor Muhammad Az Zuhaili berkata, “Berdasar berita yang dapat dipercaya, sesungguhnya semua waktu Abu Ja’far Ath-Thabari telah dikhususkan untuk ilmu dan mencarinya. Dia bersusah payah menempuh perjalanan jauh untuk mencari ilmu sampai masa mudanya dihabisakan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia tidak tidak tinggal menetap kecuali setelah usianya mencapai antara 35-40 tahun. Dalam masa ini, Abu Ja’far Ath-Thabari hanya memiliki sedikit harta karena semua hartanya dihabiskan untuk menempuh perjalanan jauh dalam musafir menimba ilmu, menyalin, dan membeli kitab. Untuk bekal semua perjalanannya, pada awalnya Abu Ja’far Ath-Thabari bertumpu pada harta milik ayahnya dan harta warisan milik ayahnya. Tatkala Abu Ja’far sudah kenyang menjalani hidup dalam dunia perjalanan mencari ilmu, akhirnya dia pun tinggal menetap.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tatkala hidupnya terputus dari dari kegiatan musafir untuk menimba ilmu, maka sisa usianya difokuskan untuk menulis, berkarya dan mengajar ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Ilmu telah menyibukkannya dan memberikan kenikmatan dan kelezatan tersendiri yang tidak akan pernah dirasakan kecuali bagi yang telah menjalaninya. Ketika seseorang telah tenggelam dalam lautan ilmu dimasa mudanya, maka menikah sering terabaikan. Ketika usia telah mencapai antara 35-40 tahun dan tersibukkan dalam majelis ilmu, maka keinginan menikah menjadi semakin hilang. Dilahapnya kitab-kitab yang berjilid-jilid dan berlembar-lembar serta waktu belajar dan berkarya juga lebih optimal. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlaknya yang Mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Abu Ja’far Ath-Thabari diberi hadiah, maka jika dia dapat membalas hadiah itu dengan yang lebih baik, hadiah itu akan diterima. Namun apabila dia tidak mampu, maka hadiah itu akan ditolak dengan ramah disertai permintaan maaf kepada pemberi hadiah. Abu Haija’ Ibnu Hamdan pernah memberikan hadiah kepada Abu Ja’far Ath-Thabari tiga ribu dinar. Setelah melihat hadiah tersebut, Abu Ja’far Ath-Thabari terkagum-kagum dan berkata, “Aku tidak bisa menerima hadiah yang aku tidak bisa membalasnya dengan yang lebih baik lagi. Dari mana aku mendapatkan uang untuk membalas hadiah sebanyak ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ja’far Ath-Thabari selalu menjauhi sikap dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh ulama. Langkah demikian itu berlangsung sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya. Pernah suatu ketika Abu Ja’far Ath-Thabari berdebat dengan Dawud bin Ali Azh-Zhahiri mengenai suatu permasalahan. Ditengah perdebatan, Abu Ja’far Ath-Thabari berhenti dan tidak meneruskan perkataannya, sehingga para temannya menjadi bertanya-tanya. Dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba salah seorang yang hadir berdiri, dengan spontan dia berkata-kata pedas dan menyakitkan yang ditujukan pada Abu Ja’far Ath-Thabari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan yang demikian itu, Abu Ja’far Ath-Thabari tidak membalasnya sedikit pun dan tidak pula terpancing memberikan jawabannya. Dengan segera ia bergegas meninggalkan tempat itu dan menulis masalah perdebatannya itu dalam sebuah kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Hafalan dan Kecedasannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hal yang dapat menunjukkan kepandaian dan kecerdasan Imam Ath-Thabari adalah kisah Imam Ath-Thabari tentang dirinya sendiri tatkala dia mampu menguasai ilmu Arudh (ilmu tentang syair atau sajak) dalam tempo satu malam. Kisahnya adalah sebagai berikut: Imam Ath-Thabari berkata, “Tatkala aku tiba di Mesir, tidak tersisa seorang ahli ilmu pun kecuali mereka menemuiku untuk mengujikan apa yang telah dikuasainya. Pada suatu hari, datang kepadaku seorang laki-laki bertanya tentang sebagian tertentu dari Arudh yang aku sendiri belum mengetahui tentang Arudh. Akhirnya aku katakan kepadanya, ‘Aku tidak bisa bicara, karena hari ini aku tidak akan membicarakan masalah Arudh sedikit pun. Tetapi datanglah besok dan temui aku.’ Lalu aku pun meminjam Kitab Arudh karya Khalil Ahmad dari temanku. Malam itu aku pelajari Kitab Arudh tersebut dan pagi harinya aku telah menjadi seorang ahli Arudh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kezuhudan dan Kewara’annya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Farghani berkata, “Muhammad bin Jarir Ath-Thabari tidak takut celaan dan cercaan manusia, biarpun itu terasa menyakitkan. Cercaan itu muncul dari orang-orang bodoh, hasad, dan yang mengingkarinya. Adapun manusia berilmu dan ahli menjalankan agama, maka mereka tidak akan mengingkari kapasitas dan kredibilitas Muhammad bin Jarir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mengakui kezuhudannya dari dunia dan qana’ah dengan merasa cukup menerima sepetak tanah kecil peninggalan ayahnya di Thabaristan. Perdana menteri Al-Kharqani bertaklid kepadanya, lalu ia mengirimkan uang dalam jumlah yang besar kepadanya. Akan tetapi, dia tetap menolak pemberian tersebut. Ketika Ibnu Jarir At-Thabari ditawarkan kedudukan qadhi (hakim) dengan jabatan wilayah al-mazhalim, dia pun menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat penolakan ini, teman-teman Ibnu Jarir mencelanya. Mereka berkata, ‘Ketika kamu terima jabatan ini, maka kamu akan mendapatkan gaji tinggi dan akan dapat menghidupkan pengajian sunnah yang kamu laksanakan.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, mereka ingin sekali memperoleh jabatan tersebut. Namun dengan perkataan mereka itu, akhirnya Ibnu Jarir membentak mereka seraya berkata, ‘Sungguh, aku mengira kalian akan mencegahku ketika aku senang jabatan tersebut.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan Muridnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para guru Ibnu Jarir Ath-Thabari sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabi yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Asy-Syawarib, Ismail bin Musa As-Sanadi, Ishaq bin Abi Israel, Muhammad bin Abi Ma’syar, Muhammad bin Hamid Ar-Razi, Ahmad bin Mani’, Abu Kuraib Muhammad bin Abd Al-A’la Ash-Shan’ani, Muhammad bin Al-Mutsanna, Sufyan bin Waqi’, Fadhl bin Ash-Shabbah, Abdah bin Abdullah Ash-Shaffar, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan muridnya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Syuaib bin Al-Hasan Al-Harrani, Abul Qasim Ath-Thabarani, Ahmad bin Kamil Al-Qadhi, Abu Bakar Asy-Syafi’I, Abu Ahmad Ibnu Adi, Mukhallad bin Ja’far Al-Baqrahi, Abu Muhammad Ibnu Zaid Al-Qadhi, Ahmad bin Al-Qasim Al-Khasysyab, Abu Amr Muhammad bin Ahmad bin Hamdan, Abu Ja’far bin Ahmad bin Ali Al-Katib, Abdul Ghaffar bin Ubaidillah Al-Hudhaibi, Abu Al-Mufadhadhal Muhammad bin Abdillah Asy-Syaibani, Mu’alla bin Said, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-Karyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jami’Al-Bayan fi Ta’wil ai Al-Qur’an yang lebih dikenal dengan sebutan At-tafsir Ath-Thabari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikh Umam wa Al-Muluk yang lebih dikenal dengan Tarikh Ath-Thabari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzail Al-Mudzil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtilaf ‘Ulama Al-Amshar fi Ahkam Syara’I Al-Islam yang lebih dikenal dengan Ikhtilaf Al-Fuqaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lathif Al-Qaul fi Ahkam Syara’I Al-Islam, yaitu fiqih Al-Jariri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab Al-Qudhah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Musnad Al-Mujarrad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qiraat wa Tanzil Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukhtashar Manasik Al-Hajj&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mujiz fi Al-Ushul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musnad Ibnu ‘Abbas, dan masih banyak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bin Kamil berkata, “Ibnu Jarir Ath-Thabari meninggal pada waktu sore, dua hari sisa bulan Syawal tahun 310 Hijriyah. Beliau dimakamkan di rumahnya, di mihrab Ya’qub, Baghdad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi 60 Ulama Salaf. Syaikh Ahmad Farid: Pustaka Al-Kautsar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-8141702619099448046?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/8141702619099448046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/imam-ath-thabari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8141702619099448046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8141702619099448046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/imam-ath-thabari.html' title='Imam Ath-Thabari'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-3915995588083677776</id><published>2009-02-03T21:27:00.001+08:00</published><updated>2009-02-03T21:29:50.939+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Beriman kepada Uluhiyah Allah</title><content type='html'>Beriman kepada uluhiyah Allah maksudnya adalah benar-benar mengimani bahwa Dialah Ilah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ilah artinya "al ma'luh", yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu adalah tuhan yang Maha Esa; tidak ada tuhan melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." ( QS. Al Baqarah: 163).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan, para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana." ( QS. Al-Imran :18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman tentang Lata, Uzza, dan Manat yang disebut sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya…" (An Najm : 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sesuatu yang disembah selain Allah, Uluhiyahnya adalah bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Hajj : 62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman tentang Nabi Yusuf yang berkata kepada dua temannya di penjara, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menuyembah yang selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurukan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu…" ( QS. Yusuf : 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para Rasul 'alaihimussalam berkata kepada kaum-kaumnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripadanya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" ( QS. Al-Mu'minun : 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil Tuhan selain Allah Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sedkitpun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mrngambil) sesuatu manfaatpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan." ( QS. Al-Furqan : 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah, "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagiNya, dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat…" ( QS. Saba' : 22-23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." ( QS. Al-A'raf :191-192).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian keadaan tuhan-tuhan itu, maka sungguh sangat tolol dan sangat batil bila menjadikan mereka sebagai Ilah dan tempat meminta pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebenarnya, orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dialah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka meng-Esakan Rububiyah (ketuhanan) Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orag yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahiu." (QS. Al-Baqarah : 21-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka? " niscaya mereka menjawab, "Allah". Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" (QS. Az-Zukhruf : 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab, "Allah". Maka katakanlah, "Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?"  (QS. Yunus : 31-32).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-3915995588083677776?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/3915995588083677776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/beriman-kepada-uluhiyah-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3915995588083677776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3915995588083677776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/beriman-kepada-uluhiyah-allah.html' title='Beriman kepada Uluhiyah Allah'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-3083712174596936793</id><published>2009-02-03T21:19:00.000+08:00</published><updated>2009-02-03T21:26:18.327+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Beriman kepada Rububiah Allah</title><content type='html'>Beriman kepada Rububiyah Allah maksudnya adalah beriman sepenuhnya bahwa Dialah Rabb satu-satunya dan tiada sekutu bagi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb adalah yang berhak menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah dari-Nya. Allah telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-A'raf : 54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“…Yang (berbuat) demikian itulah Allah, Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari." (QS. Fathir : 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah, kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan Fir'aun ketika berkata kepada kaumnya, "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." ( QS. An-Naziat : 24), dan juga ketika berkata, "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." ( QS. Al-Qashash : 38)&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (QS. An-Naml : 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Musa berkata kepada Fir'aun, "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (QS. Al-Isra' : 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘kepunyan Allah’. Katakanlah, ‘Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?’ Mereka menjawab, ‘kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekusaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’" (QS. Al-Mu'minun: 84-89).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?', Niscaya mereka menjawab, 'Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahu'i." ( QS. Az-Zukhruf : 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah,’ maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?'" (QS. Az-Zukhruf : 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Allah mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara' (syar'i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus sebagai pemutus seluruh perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu barangsiapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka dia berarti telah menyekutukan Allah serta tidak beriman kepadaNya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-3083712174596936793?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/3083712174596936793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/beriman-kepada-rububiah-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3083712174596936793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3083712174596936793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/beriman-kepada-rububiah-allah.html' title='Beriman kepada Rububiah Allah'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-4959542874098179663</id><published>2009-02-03T21:12:00.001+08:00</published><updated>2009-02-03T21:18:40.655+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Asma wa sifat</title><content type='html'>Beriman kepada Asma' dan sifat Allah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’ala , yakni menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah Rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta'thil (peniadaan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah mempunyai asmaul husna, maka memohonlah kepadanya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." ( QS. Al-A'raf: 180).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." ( QS. An-Nahl: 60). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"… tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat." ( QS. Asy-syura : 11).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Golongan Mu'aththilah, yaitu mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau mengingkari sebagiannya saja. Menurut sangkaan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini jelas keliru karena :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil atau salah, karena Allah telah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat, serta telah menafikan sesuatu yang serupa dengan-Nya. Andaikata menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu menimbulkan adanya penyerupaan, berarti ada pertentangan dalam kalam Allah serta sebagian firman-Nya akan menyalahi sebagian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kecocokan antara dua hal dalam nama atau sifatnya tidak mengharuskan adanya persamaan. Anda melihat ada dua orang yang keduanya manusia, mendengar, melihat dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya, penglihatannya, dan pembicaraannya. Anda juga melihat beberapa binatang yang punya tangan, kaki dan mata, tetapi kecocokannya itu tidak mengharuskan tangan, kaki dan mata mereka sama. Apabila antara mkhluk-makhluk yang serupa dalam nama atau sifatnya saja jelas memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara khaliq (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebh jelas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Golongan Musyabbihah, yaitu golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah dengan makhluknya. Mereka mengira hal ini sesuai dengan nash-nash Al Qur'an, karena Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat difahaminya. Angapan ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal maupun syara'. Padahal tidak mungkin nash-nash kitab suci Al-Qur'an dan sunnah Rasul menunjukkan pegertian yang bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Hakekat makna sesuatu yang berhubungan dengan dzat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi maknanya, yaitu menemukan suara-suara. Tetapi hakikat hal itu dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak maklum, karena hakekat pendengaran jelas berbeda, walau pada makluk-makhluk sekalipun. Jadi perbedaan hakikat itu antara pencipta dan yang diciptakan jelas lebih jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah memberitakan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas 'Arasy-Nya, maka bersemayam dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakekat bersemayamnya Allah itu tidak dapat diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah iman kepada Allah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Merealisasikan peng-Esaan Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-4959542874098179663?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/4959542874098179663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/asma-wa-sifat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4959542874098179663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4959542874098179663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/asma-wa-sifat.html' title='Asma wa sifat'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-4836994297078102992</id><published>2009-02-03T20:55:00.000+08:00</published><updated>2009-02-03T20:57:58.442+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Shalat Berjama’ah</title><content type='html'>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih tinggi nilainya dua puluh tujuh kali lipat daripada shalatnya sendirian.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerjakan shalat lima waktu berjama’ah mulai disyari’atkan di kota Mekkah setelah turunnya perintah mengerjakannya. Pada mulanya, shalat berjama’ah bukanlah perkara yang sangat ditekankan, hanya sebatas disyari’atkan, dan belum diwajibkan. Setelah Allah Ta’ala mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam, Allah mengutus malaikat Jibril pada hari itu juga untuk mengajari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam waktu-waktu shalat dan tata cara pelaksanaannya. Malaikat Jibril langsung mengimami Rasulullah di Baitul Al-Haram sebanyak dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrazaq meriwayatkan dalam Mushannaf-nya, dari Ibnu Jureij bahwa ia berkata, “Nafi’ bin Jubair dan yang lainnya berkata, ‘Pada pagi hari sepulang dari Isra’ Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikejutkan dengan kedatangan malaikat Jibril ketika matahari mulai tergelincir. Oleh sebab itu, disebut sebagai shalat al-uulaa. Jibril memerintahkan agar shalat ditegakkan dan dikumandangkan pada manusia “Ash-Shalaatu Jaami’atan”. Para sahabat pun berkumpul. Malaikat Jibril mengimami Rasulullah, sementara Rasulullah mengimami para sahabat dengan memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua rakaat terakhir. Kemudian Jibril mengucapkan salam sebagai pertanda shalat selesai diikuti oleh Rasulullah yang juga mengucapkan salam pertanda shalat selesai. Begitu pulalah ketika mengerjakan shalat ashar, mereka melakukannya seperti yang dilakukan pada saat mengerjakan shalat dzuhur. Kemudian malaikat Jibril turun di awal malam, dan memerintahkan agar menyerukan “Ash-Shalatu Jaami’atan”. Malaikat Jibril mengimami Rasulullah shalat. Jibril membaca surat yang panjang dan memanjangkan dua rakaat pertama serta mengeraskan bacaan dan memendekkan dua rakaat terakhir. Kemudian Jibril mengucapkan salam pertanda shalat selesai diikuti oleh Rasulullah yang juga mengucapkan salam pertanda shalat selesai.’”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;As-Suheili berkata dalam kitab Ar-Raudhul Anif, “Para penulis kitab Shahih sepakat bahwa kisah ini, yakni kisah Jibril mengimami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi pada pagi hari sepulang beliau dari Isra’ Mi’raj, yaitu lima tahun setelah diangkat menjadi nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mengerjakan shalat bersama sejumlah sahabat dalam beberapa kesempatan namun balun lakukan setiap waktu. Beliau pernah mengerjakan bersama Ali bin Abi Thalib di rumah Al-Arqaam, shalat bersama Ummul Mukminin Khadijah, yakni setelah malaikat Jibril mengimami beliau shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kala itu shalat jama’ah belumlah ditekankan. Shalat jama’ah baru disyari’atkan di Madinah setelah hijrah. Kemudian, shalat jama’ah menjadi syi’ar agama Islam. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia berkata, ”Ketika kaum muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk menunggu waktu shalat tanpa ada seruan ataupun panggilan. Pada suatu hari mereka berbincang-bincang tentang masalah tersebut. Sebagian mereka mengusulkan  agar membuat lonceng seperti lonceng yang digunakan kaum Nasrani. Sebagian lagi mengusulkan agar membuat terompet sebagaimana yang digunakan kaum Yahudi. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Mengapa kalian tidak memerintahkan saja seseorang untuk menyerukan shalat.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Wahai Bilal, bangkit dan kumandangkan azan shalat.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari jalur Abu Umeir bin Anas dari salah seorang bibinya dari kalangan Anshar bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memikirkan bagaimana caranya mengumpulkan manusia untuk mengerjakan shalat. Ada yang mengusulkan kepada beliau, ‘Tancapkan saja bendera setiap waktu tiba shalat. Apabila manusia melihatnya, mereka saling memberitahu satu sama lainnya.’ Namun Rasulullah tidak tertarik dengan usul tersebut. Lalu ada yang menyebut-nyebut al-quna’ atau syabbuur, yakni terompet yang biasa digunakan oleh orang Yahudi. Ziyad berkata, ‘Yakni syabburu Yahudi.’ Namun beliau tidak tertarik dengan gagasan tersebut. Beliau mengatakan bahwa itu adalah ciri khas orang Yahudi. Lalu ada yang mengusulkan (dengan) membunyikan lonceng. Beliau berkata, ‘Itu merupakan ciri khas kaum Nasrani.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tidak satu pun usul diterima oleh Rasulullah, maka kembalilah Abdullah bin Zaid sambil memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh Rasulullah. Ia pun bercerita, “Wahai Rasulullah, saat itu aku antara sadar dan tidak, tiba-tiba datanglah seseorang menemuiku dan memperlihatkan kepadaku seruan azan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh hari sebelumnya, Umar bin Khattab juga telah melihat mimpi yang sama, namun beliau tidak menceritakannya. Lalu ia menceritakan kepada Rasulullah mimpinya itu. Rasulullah berkata kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk menceritakannya kepadaku?” Umar menjawab, “Abdullah bin Zaid telah mendahuluiku, aku pun malu menceritakannya.” Maka Rasulullah pun berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, bangkitlah dan ikutilah apa yang didektekan Abdullah bin Zaid, lalu kumandangkanlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bysr berkata, “Abu Umeir menceritakan kepadaku bahwa kaum Anshar yang menceritakan kepadaku bahwa kaum Anshar menduga bahwa sekiranya saat itu Abdullah bin Zaid tidak sedang sakit, niscaya Rasulullah mengangkatnya sebagai mua’adzin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah azan disyari’atkan untuk pelaksanaan shalat lima waktu berjama’ah. Sudah selayaknya kapan saja seorang muslim jika mendengar azan supaya segera mendatanginya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sekiranya orang-orang tahu keutamaan menyambut seruan azan dan berada di shaf pertama, kemudian hal tersebut hanya dapat diraih (dengan) mengundi, niscaya mereka akan mengundi demi mendapatkannya.’” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Disyari’atkannya Shalat Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan shalat dalam Islam merupakan wasilah yang paling ampuh dalam menghapus perbedaan status sosial antara kaum muslimin, menghilangkan sikap fanatik terhadap warna kulit, suku bangsa, dan nasab. Shalat berjama’ah mendorong seseorang untuk meninggalkan kebiasaannya yang suka menyendiri sehingga kaum muslimin dapat saling bergaul dan mengenal di antara mereka. Dengan demikian, akan tercipta rasa saling menyayangi dan persaudaraan yang mengakar kuat. Selain itu, shalat berjama’ah juga akan membimbing seseorang untuk hidup teratur dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Shalat Fardhu Berjama’ah dan Ancaman Meninggalkan Shalat Berjama’ah Tanpa Udzur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat fardhu berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain (bagi laki-laki). Ini merupakan pendapat dari Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, Atha bin Abi Rabbah, Ibnu Khuzaimah, Al-Auza’I, dan merupakan pendapat mayoritas ulama Hanafiyah dan Hambaliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Barangsiapa mendengarkan seruan azan, sedang tidak ada udzur yang menghalanginya (untuk) mengikuti  shalat berjama’ah, maka tidak sah shalat yang dilakukannya sendirian.” Mereka berkata, “Apa itu udzur?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Rasa takut (tidak aman) atau sakit.” (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bilamana tiga orang yang tinggal di satu kota atau desa tidak menegakkan shalat berjama’ah, maka setan akan mempecundangi mereka. Hendaklah kalian selalu menegakkan shalat berjama’ah.” ( HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat atas kaum munafiqin adalah shalat isya’ dan fajar. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan menghadirinya meskipun dengan merangkak. Sungguh betapa ingin rasanya aku memerintahkan orang-orang untuk shalat kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka. Lalu aku pergi bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa kayu bakar menjumpai orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan Lengkap Shalat Berjama’ah, Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan: Pustaka At-Tibyan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-4836994297078102992?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/4836994297078102992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/shalat-berjamaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4836994297078102992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/4836994297078102992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/02/shalat-berjamaah.html' title='Shalat Berjama’ah'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-2563886836847058330</id><published>2009-01-16T16:47:00.000+08:00</published><updated>2009-01-16T16:48:52.954+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq</title><content type='html'>Nama Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sebenarnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr Al-Qurasy At-Taimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya adalah Ummu Al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim. Ayahnya diberi kunyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah. Pada masa jahiliyah, Abu Bakar diberi gelar “Atiq”.&lt;br /&gt;Jasa Abu Bakar di dalam Mengumpulkan Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 12 H., Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun dari hafalan yang tersimpan dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari’ penghafal Al-Qur’an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah. Zaid bin Tsabit pernah berkata, “Abu Bakar mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah. Pada saat aku mendatanginya, aku melihat Umar bin Khathab berada disampingnya. Abu bakar lalu berkata, ‘Umar mendatangiku dan berkata, ‘Sesungguhnya banyak Qari’ penghafal Al-Qur’an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari’ yang masih hidup, lalu di kamudian hari terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagaian besar dari ayat Al-Qur’an. Menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an.’ &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku (Abu Bakar) bertanya kepada Umar, ‘Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?’ Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah kebaikan!’” Dan Umar terus menuntut Abu Bakar hingga Allah melapangkan dadanya untuk segera melaksanakannya, akhirnya Abu Bakar pun setuju dengan pendapat Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid bin Tsabit berkata, “Kemudian Abu Bakar berkata kepadaku, ‘Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal, dan penuh amanah. Selain itu, engkau pun telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah, maka carilah seluruh ayat Al-Qur’an yang berserakan dan kumpulkanlah.’” Lalu, Zaid berkata pada dirinya sendiri, “Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung, tentulah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan perintah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an.” Kemudian Zaid bin Tsabit pun mulai mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang tertulis di daun-daunan, kulit, maupun dari hafalan para penghafal Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedermawanan Abu Bakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar Bin Khathab, dia berkata, “Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan sedekah. Kebetulan saat itu aku sedang mamiliki harta. Lalu aku katakan, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar dimana aku tidak pernah mengalahkan Abu Bakar sebelum ini. Aku datang kepada Rasulullah untuk menginfakkan sebagian dari harta milikku.’ Rasulullah bertanya kepadaku, ‘Lalu apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Aku katakan kepada Rasulullah bahwa aku meninggalkan (untuk keluargaku) seperti apa yang aku infakkan (masih tersisa setengah harta untuk keluargaku red-) Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan seluruh hartanya. Rasulullah menanyakan padanya, ‘Lalu apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasulullah.’ Aku (Umar) berkata setelah itu bahwa aku tidak mungkin untuk mengalahkannya dalam segala hal untuk selamanya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan Abu Bakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar pernah ditanya, “Siapa yang memberikan fatwa di zaman Rasulullah?” Dia berkata, “Abu Bakar dan Umar. Aku tidak tahu orang lain selain mereka berdua.” Pada suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dihadapan para sahabat, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Mahaagung telah memberikan pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan akhirat. Lalu, hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.” Ketika mendengar hal itu, Abu Bakar menangis lalu berkata, “Kami menjadikan anak-anak dan ibu-ibu kami sebagai jaminan.” Kami (para sahabat red-) merasa aneh dengan tangisannya yang spontan tatkala Rasulullah memberitahukan tentang seorang hamba yang diberi dua pilihan. Rasulullah adalah orang yang diberi pilihan itu, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang pandai di antara kami. Rasulullah kemudian bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling setia dalam persahabatannya denganku dan dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Andaikata aku mengambil seseorang mejadi kekasih selalin Tuhanku, niscaya aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Namun aku menjadikan dia sebagai saudara seagama yang penuh cinta.” (HR. Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, “Abu Bakar adalah sahabat yang paling baik bacaannya─yakni dialah yang paling mengerti tentang Al-Qur’an. Oleh karena itu, Rasulullah menjadikannya sebagai imam shalat para sahabat.” Selain paham Al-Qur’an, Abu Bakar merupakan orang yang paling paham sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu bakar Merupakan Sahabat yang Paling Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Kami diperintahkan memilih orang-orang (yang paling utama) di zaman Rasulullah, lalu kami memilih Abu Bakar, lalu Umar, kemudian Utsman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Aku menanyakan pada ayahku, siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah?” Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Kemudian aku tanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab, “Umar.” Dan aku takut jika dia menyebut Utsman setelahnya. Maka kukatakan, “Setelah itu pasti Anda.” Namun beliau menjawab, “Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengangkatannya Sebagai Khalifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Waqidi meriwayatkan dari Aisyah, “Sesungguhnya Abu Bakar di ba’iat pada saat Rasulullah wafat, pada hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awwal sebelas Hiriyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Az-Zuhri berkata, “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, ‘Aku mendengar Umar berkata pada hari itu (hari wafatnya Rasulullah) kepada Abu Bakar, ‘Naiklah ke atas mimbar,’ maka ia (Umar) pun terus menuntut hingga Abu Bakar naik ke atas mimbar dan di ba’iat oleh seluruh kaum muslimin.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat dengan jelas bahwa para sahabat dari kalangan Muhajirin maupun Anshar telah sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar wafat pada hari Senin di malam hari. Ada pula yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah maghrib (malam selasa) dan dikuburkan pada malam itu juga, yaitu tepatnya delapan hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir 13 Hijriyah. Sebelum meninggal, Abu Bakar sakit selama lima belas hari. Pada saat sakit, Abu Bakar mewasiatkan agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin Khathab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar memimpin sebagai khalifah selama dua tahun tiga bulan. Beliau wafat pada umar 63 tahun. Di antara wasiat Abu Bakar kepada Aisyah, “Aku tidak meninggalkan harta untuk kalian kecuali hewan yang sedang hamil, serta budak yang selalu membantu kita membuat pedang kaum muslimin. Oleh karena itu, jika aku wafat, tolong berikan seluruhnya kepada Umar.” Ketika Aisyah menunaikan wasiat itu kepada Umar, maka Umar berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Sesungguhnya dia telah membuat kesulitan (untuk mengikutinya) bagi orang-orang yang menjadi khalifah setelahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dimakamkan berdampingan dengan makam Rasulullah yang terletak di kamar Aisyah. Beliau pun di shalatkan oleh Umar bin Khathab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bidayah Wan-Nihayah, Ibnu Katsir: Darul Haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikh Khulafa’, Imam As-Suyuthi: Pustaka Al-Kautsar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-2563886836847058330?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/2563886836847058330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2563886836847058330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2563886836847058330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html' title='Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-3939314827681860678</id><published>2009-01-16T16:43:00.000+08:00</published><updated>2009-01-16T16:46:52.842+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</title><content type='html'>Nama beliau adalah: Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdul Aali Baz. (sebagaimana yang diimlakkan oleh beliau sendiri. (Lihat Imamul ‘Ashar hal. 9-14, oleh Dr. Nasir bin Musfir az-Zahrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Dzulhijjah 1330 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syaikh-Syaikh Tempat Beliau Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;as-Syaikh Muhammad bin Abdullathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, as-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (qadhi Riyadh) rahimahullahas-Syaikh Sa’ad bin Hamd bin Faris bin ‘Athiq (qadhi Riyadh), as-Syaikh Hamd bin Faris wakil Baitul Mal Riyadh), as-Syaikh Sa’ad Waqqash al-Bukhari (guru tajwid beliau pada tahun 1355 H), Samahatu as-Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullathif Aalu as-Syaikh (tempat beliau menimba berbagai macam disiplin ilmu Syari’at mulai tahun 1347-1357 H).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jabatan yang Pernah Beliau Laksanakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadhi di daerah al-Kharaj semenjak tahun 1357-1371 H, mengajar di Ma’had al ‘Ilmi di Riyadh pada tahun 1372 H dan fakultas Syari’ah di Riyadh setelah dibentuknya fakultas tersebut pada tahun 1373 H (dalam mata pelajaran ilmu fiqh, tauhid dan hadits, dan jabatan ini beliau tekuni sampai tahun 1380 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1381 H beliau ditunjuk sebagai wakil Rektor Universitas Islam Madinah hingga tahun 1390 H, diangkat menjadi Rektor Universitas tersebut pada tahun 1390 H setelah wafatnya as-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu as-Syaikh rahimahullah pada bulan Ramadhan 1389 H, kemudian beliau tetap memegang jabatan tersebut sampai tahun 1395 H, dan terakhir pada tanggal 14-10-1395 H keluar Surat Keputusan Kerajaan untuk mengangkatnya sebagai pimpinan umum untuk bagian Pembahasan Ilmiyah, Fatwa Dakwah dan Irsyad (kemudian tersebut berubah menjadi Mufti Umum Kerajaan setelah dibentuknya Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Dakwah dan Irsyad pada tahun 1414 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau juga menyebutkan, bahwa di samping tugas tersebut di atas, beliau juga menjabat sebagai anggota pada beberapa Majelis Islamiyah yang berskala internasional, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anggota Perkumpulan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kepala Badan Tetap Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa pada lembaga di atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anggota dan kepala majelis pendiri Rabithah Alam Islami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kepala pada Majma’ al-Fiqhi al-Islami yang berpusat di Mekkah al-Mukarraamah yang merupakan bagian dari Rabithah Alam Islami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anggota pada majelis tertinggi di Universitas Islam Madinah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anggota pada majelis tinggi Da’wah Islamiyah Kerajaan Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan-karangan beliau, sebagian kecilnya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Al-Fawaid al-Jalilah fi al-Mabahits al-Fardhiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* At-Tahdzir minal Bida’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Al-‘Aqidah ash-Shahihah wamaa Yudhaadhuha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Al-Jihad fi Sabilillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ad-Da’watu Ilallah wa Akhlaaqu ad-Du’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Al-Jawabul Mufid fi Hukmi at-Tashwiir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wujuubu Tahkiimi Syar’illahi wa Nabdzu maa Khaalafahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada subuh Kamis 27 Muharram 1420 H di kota Thaaif, dishalatkan pada hari Jumat (28 Muharram 1420 H) di Masjid Haram, dan dimakamkan di pemakaman al-‘Adl Makkah Mukarramah. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas dan memasukkannya ke dalam surga. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir az-Zahrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Bin Baz dan Sifat Dermawannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dermawan adalah di antara sifat yang dimiliki oleh para nabi ‘alaihimussalam. Begitu pula halnya nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, makhluk yang paling memiliki sifat memberi, orang yang paling agung pemberiannya, dan manusia yang paling sempa dalam memberi, sehingga Jabir radhiallahu’anhu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Belum pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu (kepadanya) kemudian beliau menjawab: ‘Tidak’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas radhiallahu‘anhu beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya seorang laki-laki telah meminta kambing (yang jumlahnya) memenuhi (lembah) antara dua gunung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau memberikannya kepada orang tersebut, lalu laki-laki itu datang menemui kaumnya dan berkata,’Wahai kaumku! Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam, demi Allah! Sesungguhnya Muhammad akan memberikan suatu pemberian (bila kamu sekalian masuk Islam) dan dia tidak pernah takut miskin (karena memberi)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahih Muslim hadits no. 5975 [syarah Imam Nawawi cet. Dar al-Ma’rifah Beirut Tahun 1418 H/ 1997]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam “Imamul ‘Ashar ibnu Baz wa al-Albani” hal. 13, bahwa pernah seorang mujahid diutus menemui beliau (untuk meminta sumbangan), namun yang ada adalah sebuah benda yang sangat penting miliknya, maka beliau pun menjual barang tersebut dan memberikan hasil penjualannya kepada mujahid itu untuk dimanfaatkan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak mengizinkan bagi orang yang datang berkunjung kepadanya untuk permisi pergi, kecuali setelah makan siang atau makan malam bersamanya, istimewa apabila yang berkunjung itu adalah musafir atau datang sengaja dari daerah jauh. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata salah seorang sahabat karib as-Syaikh bin Baz yang bersama Sa’ad bin Abdul Muhsin (orang ini lebih tua sepuluh tahun dari as-Syaikh bin Baz), “Dahulu ketika masa mudanya, beliau (Bin Baz) belajar dengan as-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Apabila pulang dari belajar dan di jalan bertemu dengan seseorang penuntut ilmu atau orang yang merantau atau tamu ataupun tetangga, maka beliau berusaha sekuatnya untuk mengajak orang tersebut masuk ke rumahnya untuk makan bersamanya, padahal beliau adalah seorang yang miskin dan kurang persediaan makanan, hal ini terus-menerus berkelanjutan selama hidupnya, bahkan beliau merasa sedih apabila tidak ada seorang tamu pun yang menyertainya makan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun sebelum wafatnya beliau, setelah safar ke Mekkah dan kembali ke kota Thaaif, seperti biasanya beliau membuka pintu rumah dengan harapan agar orang-orang datang. Akan tetapi teyata tamu dan orang-orang fakir miskin tidak ada yang datang ke rumahnya (untuk makan bersamanya) karena kebanyakan mereka tidak mengetahui beliau telah kembali, serta-merta beliau pun berduka-cita sembari bertanya kepada orang-orang yang membantunya, “Apa hal yang terjadi pada orang-orang sehingga mereka tidak datang? Apakah kamu sekalian katakan bahwa saya capek (baru pulang), ataukah kamu sekalian pernah menutup pintu di hadapan mereka, atau adakah sebab lain?” Mereka menjawab, “Wahai Tuan Syaikh, kebanyakan mereka belum menetahui kalau Anda telah sampai dan sebagian yang lain ingin untuk beristirahat pada hari-hari raya pertama ini”. Beliau berkata, “Pergi beritahukan masyarakat, para tetangga bahwa syaikh mengundang kamu sekalian, dan rumahnya terbuka untuk anda sekalian”. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 101)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Sejajar di Sisinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika sebagian orang datang menemui beliau dan berkata kepadanya, “Wahai Tuan Syaikh, ada sebagian orang berpangkat berpendapat bahwa ketika beliau duduk bersama orang-orang ketika makan siang atau makan malam dan lainnya, yang duduk menemui Tuan ada buruh, pegawai, ada Arab ada pula orang ‘ajam dan orang-orang miskin, bahkan ada pula orang-orang hitam; hal seperti ini membuat kurang enak di hati para penziarah dan tamu-tamu besar. Maksud kami bukanlah mengusulkan supaya Tuan tidak usah memberi orang-orang tersebut makan dan menutup pintu bagi mereka, akan tetapi alangkah baiknya kalau bagi mereka disediakan tempat makan dan minum tersendiri sedangkan Tuan dan orang-orang yang istimewa berada pada suatu tempat yang khusus pula”. Seketika itu muka syaikh langsung berubah, (muka tidak senang) karena mendengar ucapan orang tersebut, dan beliau berkata, “Miskin…miskin…(aduhai malangnya, aduhai malangnya), orang yang berpendapat seperti ini belum mengecap lezatnya bergaul dengan orang-orang miskin dan makan bersama orang-orang fakir, saya tidak akan meninggalkan kebiasaan ini dan saya tidak memiliki orang-orang istimewa. Bagi yang sanggup duduk bersama saya dengan ditemani oleh orang-orang fakir miskin itu silakan duduk, barangsiapa yang tidak betah, maka tidak ada paksaan”. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baz Sebagai Bapak Bagi Orang Miskin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang miskin dengan pakaian ala kadaya yang berasal dari Afrika datang menanyakan beliau pada musim haji yang terakhir (musim haji sebelum beliau meninggal dunia). Orang tersebut bertanya, “Mana as-Syaikh Bin Baz?”, maka dikatakan kepada orang tersebut, bahwa beliau tidak sanggup pergi haji. Orang negro itu balik ditanya, “Anda mau apa?”, orang itu menjawab, “saya tidak menginginkan apa pun dari Anda, hanya saha saya adalah seorang miskin sedangkan as-Syaikh adalah bapak bagi orang-orang miskin”. (Imamul ‘Ashar Dr. Nasir Zahrani hal. 190)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup kami merasa perlu menyampaikan bahwa riwayat-riwayat ini mungkin hanya seperseribu riwayat yang mengungkapkan tentang alangkah indahnya kehidupan beliau. Mudah-mudahan dalam kesempatan lain ada di antara saudara kita bersedia menggoreskan tintanya tentang keilmuan, ketakwaan, amanah, santunnya beliau dan lain-lainnya. Sehingga tersimpullah bagi kita yang pemula, “Kalau sekiranya Ibnu Baz seorang imam kaum Muslimin yang hidup seribu lima ratus tahun setelah Rasulullah wafat, maka bagaimana halnya dengan orang yang menurunkan warisan semua ilmu para ulama, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?, semoga Allah Ta’ala mengaruniakan pemahaman yang benar dan ketakwaan yang sempua kepada kita dan kepada seluruh kaum Muslimin, amin! Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Quraanul Karim dan terjemahnnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Shahih Imam Bukhari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Shahih Muslim syarah Imam Nawawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tafsir Thabari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Imamul ‘Ashar [Dr. Nasir bin Musfir az-Zahrani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Imama al-‘Ashar Ibnu Baz wa al-Albani [Ma’had Imam Bukhari lis-Syari’ah Islamiyah] Libanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Abu Yahya Ahmad Rahimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari www.hatibening.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-3939314827681860678?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/3939314827681860678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/syaikh-abdul-aziz-bin-abdullah-bin-baz.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3939314827681860678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/3939314827681860678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/syaikh-abdul-aziz-bin-abdullah-bin-baz.html' title='Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-2269109211628091604</id><published>2009-01-16T16:37:00.000+08:00</published><updated>2009-01-16T16:42:20.049+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak'/><title type='text'>Generasi Nikotin</title><content type='html'>Data yang disampaikan Tobacco Control Network (ITCN)Indonesia cukup mengejutkan. ITCN menyebutkan bahwasekitar 80 % dari populasi perokok Indonesia tahun 2007 ternyata berusia di bawah 19 tahun. Artinya,  jika ada 10 orang perokok di Indonesia, maka delapan orang di antaranya adalah perokok belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini tentu amat menyedihkan, mengingat mereka menjadi perokok di usia yang masih sangat muda. Remaja yang sudah menjadi pecandu nikotin berpotensi menjadi perokok jangka panjang. Karena pengaruh rokok bersifat akumulatif,  maka dampaknya akan terasa puluhan tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menyedihkan lagi, orang miskin pun tidak lepas dari jeratan rokok. Bagaimana bisa? Dari survei ITCN diketahui, dengan sumber daya rumah tangga yang terbatas, belanja rokok masyarakat termiskin adalah 11 % dari pengeluaran bulanannya. Sementara yang terkaya hanya 9.7 % dari total pengeluaran bulanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasan merokok para remaja dan pelajar, salah satunya dipengaruhi oleh faktor pergaulan. Seorang remaja yang awalnya tidak merokok,  jika bertemu denagan remaja perokok, kemungkinan besar akan terpengaruh dan ikut-ikutan merokok. Sebab jika tidak ikut merokok maka dia akan dikucilkan dalam pergaulannya. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Iklan rokok juga manjadi salah satu faktor penyebab banyaknya remaja yang merokok. Gambaran laki-laki macho, gemar berpetualang, atau lelaki sejati yang kerap muncul pada iklan rokok menyebabkan para remaja ingin tampak seperti sosok tersebut dengan cara mengisap rokok yang diiklankan.&lt;br /&gt;Sementara bagi masyarakat miskin, merokok lebih dijadikan ajang pelarian untuk sejenak melupakan pahitnya hidup yang mereka jalani. Asap tembakau yang mereka isap seolah mampu menghilangkan beban yang menghimpit kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini diperparah oleh rendahnya perlindungan terhadap masyarakat dari dampak tembakau dalam program kesehatan masyarakat. Kepentingan politis dengan dalih ekonomi menjadi pemicunya. Bukan rahasia lagi jika industri rokok menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar dan menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara kita juga tidak ada larangan atau batasan usia  untuk membeli rokok. Anak SD sekalipun dapat dengan mudah membeli rokok. Sebab rokok dijual di mana-mana.&lt;br /&gt;Soal peringatan pemerintah tentang bahaya rokok, mereka tak pernah peduli. Sebab tulisan itu hanya terdapat di kemasan rokok. Itupun dengan porsi huruf yang kecil dan sulit dibaca. Sementara mereka membelinya dengan cara batangan yang tidak memerlukan kemasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran,  si muda dan si miskinlah yang menjadi bagian terbesar dari barisan pecandu rokok di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan-dugaan Dusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sadar akan bahaya rokok dan pihak MUI telah memfatwakan pengharamannya, banyak yang tetap merokok dengan beberapa alasan, di  antaranya:&lt;br /&gt;1. Merokok membantu berfikir, padahal kenyataannya merokok bisa menceraiberaikan pikiran, mengurangi konsentrasi berfikir karena rokok menyebabkan penyempitan nafas dan keringnya tenggorokan.&lt;br /&gt;2. Merokok membantu menenangkan urat saraf, padahal sebaliknya rokok berpengaruh buruk pada urat saraf, sebagaimana ia menyebabkan kencangnya detak jantung dan itu sangat berbahaya.&lt;br /&gt;3. Merokok memperbanyak teman dengan saling menawarkan rokok dan berbasa-basi di dalamnya. Ternyata ini pun keliru, sebab pada kenyataannya teman-teman yang dimaksud adalah teman-teman buruk.  &lt;br /&gt;4. Merokok menghilangkan rasa lelah, padahal justru menambah kelelahan dan kepayahan karena terganggunya banyak organ tubuh, seperti urat saraf, alat pencernaan dsb.  &lt;br /&gt;5. Merokok bisa mengusir kesedihan dan kegalauan, padahal ia mendatangkan kesedihan, kegalauan dan bencana, di antaranya karena ia harus terus merogoh kantongnya, dan dengan merokok berarti ia secara terang-terangan melakukan maksiat kepada Allah Azza wajalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan Terhadap Perokok Tempo Dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Muhammad—rahimahullah—berkata, "Adapun orang yang mengisap rokok, jika ia mengisapnya setelah mengetahui hukumnya haram, maka ia dicambuk 80 kali dengan cambukan ringan yang tidak membahayakannya. Dan jika dia mengisapnya karena kebodohannya maka tidak ada sangsi atasnya dan ia diperintahkan bertobat dan beristighfar. Dan jika ada orang mengatakan, rokok itu tidak haram, juga tidak halal, maka dia adalah orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya."&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan, "Orang yang menanam tembakau harus dihukum, juga orang yang menyimpannya di dalam rumah atau menghisapnya, dia harus dihukum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Melarang Rokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam rokok belum dikenal, dan tidak ada ayat-ayat Al Qur'an maupun hadits-hadits Rasulullah  yang dengan tegas menyatakan pengharaman rokok, namun Islam datang dengan prinsip-prinsip umum yang melarang semua yang dapat mendatangkan bahaya dan kerugian.&lt;br /&gt;Allah  berfirman, artinya:&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29).&lt;br /&gt;"Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195).&lt;br /&gt;Dan semua tahu, merokok sangat membahayakan.&lt;br /&gt;Allah Subhana wata'ala juga telah memerintahkan kita untuk tidak mengonsumsi makanan kecuali yang baik-baik.&lt;br /&gt;"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi." (QS. Al Baqarah: 168).&lt;br /&gt;"Dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka." (QS. Al A'raf: 157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang menyangkal, bahkan para pecandu rokok sekalipun mengakui, rokok tidak memenuhi kriteria yang disebut dalam kedua ayat di atas.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasaallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak boleh mendatangkan bahaya dan tidak boleh saling mendatangkan bahaya."  (HR. Ibnu Majah dan ِAhmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok, mendatangkan bahaya bagi diri sendiri, sekaligus mendatangkan bahaya bagi orang lain.&lt;br /&gt;Sehingga menghisapnya haram, demikian pula menjualnya.&lt;br /&gt;Banyak orang tahu bahaya merokok dari sisi kesehatannya, tapi tidak banyak yang peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula yang tahu bahaya rokok ditinjau dari sudut pandang agama, tapi sedikit yang mau bertaubat.&lt;br /&gt;Kita sangat kuatir, orang-orang seperti ini termasuk dalam sabda Rasulullah ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Dosa-dosa) setiap ummatku diampuni, kecuali yang berbuat dosa secara terang-terangan." (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Wallahul Musta’an wa Ilaihil Musytakaa  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-2269109211628091604?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/2269109211628091604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/generasi-nikotin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2269109211628091604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/2269109211628091604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/generasi-nikotin.html' title='Generasi Nikotin'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-8785849555149385919</id><published>2009-01-16T16:32:00.002+08:00</published><updated>2009-01-16T16:37:01.945+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Risalah tuk Saudara Tercinta</title><content type='html'>الحمد لله وكفى، وصلاة وسلاما على عباده الذين اصطفى .. أما بعد :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setiap manusia akan mengalami kesudahan. Betapa pun lezatnya dia merasakan kenikmatan hidup di dunia, betapa pun panjang umurnya, betapa pun dia memuaskan syahwat dan meneguk kenikmatan dunia, dirinya tetap akan mengalami kesudahan. Kematian! Itulah kesudahan tersebut. Sesuatu yang tidak dapat dihindari. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كل ابن أنثى وإن طالت سلامته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يوما على آلة حدباء محمول&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia, betapa pun panjang umurnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak di suatu hari, dirinya akan terusung di atas keranda &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada hari tersebut seluruh makhluk kembali menghadap kepada Allah jalla wa ‘ala agar seluruh amalan mereka dihisab. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 281)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang sering terlupakan, hari yang paling akhir, hari di mana kerongkongan tersekat. Tiada hari setelahnya dan tidak ada yang semisal dengannya. Itulah hari yang dahsyat dan telah Allah tetapkan bagi seluruh makhluk-Nya, baik yang muda maupun yang tua, yang terpandang maupun yang hina. Itulah hari kiamat, pertemuan yang telah dijanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum itu, ada waktu di mana setiap manusia berpindah dari kampung yang penuh tipu daya menuju kampung abadi sesuai dengan amalannya. Pada waktu itu, manusia akan melayangkan pandangannya yang terakhir kali kepada anak dan kerabatnya, dirinya akan memandang dunia ini untuk kali yang terakhir. Di saat itulah, tanda-tanda sekarat akan nampak di wajahnya. Muncul rasa sakit dan tarikan nafas yang teramat dalam dari lubuk hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu itu, manusia akan mengetahui betapa hinanya dunia ini. Di waktu itu, dirinya akan menyesali setiap waktu yang telah disia-siakannya. Dirinya akan memanggil, “Wahai Rabb-ku!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu itulah, kebinasaan dan kematian akan menjemputnya. Malaikat maut akan menghampirinya seraya memanggil dirinya. Duhai! Apakah yang akan dia serukan? Seruan menuju surga ataukah seruan menuju neraka?!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, sesungguhnya pengasingan yang hakiki adalah pengasingan dalam lahad tatkala diri diliputi kain kafan. Tidakkah anda membayangkan bagaimana anda diletakkan di atas dipan, tiba-tiba tangan para handai taulan mengguncang tubuh anda (agar anda tersadar). Sekarat semakin keras anda alami dan kematian menarik ruh anda di setiap urat. Kemudian ruh tersebut kembali menuju kepada Pencipta-nya. Alangkah dahsyatnya kejadian itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para keluarga pun datang dan menyalati anda, kemudian menurunkan jasad anda ke dalam kubur. Sendirian, tanpa seorang pun yang menemani. Ibu dan bapak tidak lagi menemani, saudara pun tidak ada yang akan menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah seorang akan merasakan keterasingan dan ketakutan yang teramat sangat. Dalam sekejap, hamba akan berpindah dari kampung yang hina menuju negeri yang dipenuhi kenikmatan jika dirinya termasuk seorang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal yang shalih. Atau sebaliknya, dia akan menuju negeri kesengsaraan dan dipenuhi azab yang pedih, bila dirinya termasuk seorang yang buruk amalnya dan senang mendurhakai Sang Pencipta jalla wa ‘ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kehidupan dunia yang menipu telah dilipat, dan nampaklah di hadapan hamba ketakutan di hari kebangkitan. Hiburan dan kesenangan berlalu, dan yang tersisa hanyalah kelelahan (di hari berbangkit). Dalam sekejap, lembaran hidup seorang tertutup, entah lembaran hidupnya diwarnai dengan kebaikan atau sebaliknya diwarnai dengan keburukan. Timbul dalam hati, penyesalan terhadap hari-hari yang telah dilalui dalam keadaan lalai dari mengingat Allah dan hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dunia dan seisinya berlalu dan berakhir sedemikian cepatnya. Dan sekarang dirinya menghadapi tanda-tanda kesengsaraan di depan matanya. Ruhnya kembali kepada penciptanya dan berpindah menuju kampung akhirat dengan berbagai keadaannya yang begitu menakutkan. Dalam sekejap, dirinya kembali menjadi sesuatu yang tidak dapat disebut. Dalam sekejap, seorang singgah di awal persinggahan akhirat dan menghadapi kehidupan yang baru. Entah itu kehidupan yang bahagia, atau kehidupan yang mengenaskan. Wal ‘iyadzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat kubur yang penghuninya saling berdekatan dan berbeda-beda tingkat keshalihannya, itulah kubur yang didiami oleh penghuni yang senantiasa merasakan kenikmatan dan kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kubur yang terletak di lapis terbawah dan dipenuhi siksaan yang teramat pedih. Penghuninya berteriak, namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Dirinya meminta agar dikasihani, namun tidak seorang pun yang mampu memenuhi permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dirinya akan menemui hari yang telah dijanjikan. Suatu hari, ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit dan seluruh makhluk di Padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Suatu hari, yang pada hari itu seorang tidak mampu menolong orang yang dikasihinya sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala malaikat penyeru memanggil, keluarlah seluruh mayit dari kubur menuju Rabb-nya dalam keadaan bertelanjang kaki, tak berbaju dan tidak berkhitan. Mereka tidak lagi memiliki pertalian nasab, juga kemuliaan, tidak pula kedudukan dan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ . فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” (QS. Al Mukminuun: 101-104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, Allah mengumpulkan seluruh umat, baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian. Di hari itu, kecemasan dan kesabaran tercerai berai. Pada hari itu, berbagai catatan amal disebar dan dipancanglah berbagai timbangan amal. Di hari itu, seorang akan lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, juga dari istri dan anaknya. Hari di mana seorang pelaku maksiat (kafir) menginginkan, jika sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya serta kaum kerabat yang telah melindunginya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Saudara Tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anda yang bermaksiat kepada Allah. Bayangkanlah dirimu berdiri di antara para makhluk, lalu anda dipanggil, “Manakah gerangan fulan bin fulan? Mari bergegas ke hadapan Allah!” Engkau pun menggigil ketakutan, kedua kaki dan seluruh tubuhmu gemetar ketakutan. Raut wajahmu pun berubah dan dirimu diliputi kegelisahan, kebingungan dan kerisauan yang hanya Allah-lah mengetahui (keadaanmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah dirimu berdiri di hadapan Sang Pencipta langit dan bumi, sementara hati dan anggota tubuhmu ketakutan, dengan pandangan tertunduk lagi hina. Tangan anda memegang catatan amal yang berisikan segala amalan anda yang rendah lagi hina. Anda pun membacanya dengan lidah yang kelu dan hati yang kacau. Dirimu pun merasa malu terhadap Zat yang senantiasa berbuat baik kepadamu dan selalu menutup aibmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jawablah! Bagaimanakah anda akan menjawab, ketika Dia bertanya kepadamu tentang suatu kesalahan yang merupakan dosa terbesarmu? Bagaimanakah anda akan berdiri di hadapannya dan sanggupkah engkau memandangnya? Bagaimana hati anda sanggup menahan perkataan-Nya yang mulia serta berbagai pertanyaan dan teguran-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika Dia mengingatkan terhadap segala bentuk penentanganmu terhadap-Nya, kemaksiatan yang anda lakukan, kurangnya perhatian terhadap larangan dan pengawasan-Nya terhadap dirimu? Bagaimana jika Dia mengingatkan akan lemahnya perhatianmu untuk menaati-Nya di dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan anda katakan jika Dia bertanya kepadamu, “Wahai hamba-Ku, mengapa engkau tidak memuliakan-Ku?! Apakah engkau tidak malu kepada-Ku?! Apakah engkau tidak merasa bahwa Aku mengawasimu?! Bukankah Aku telah berbuat baik dan memberikan nikmat kepadamu?! Apakah yang telah memperdayakanmu sehingga berbuat durhaka kepada-Ku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Saudara Tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah para pelaku kebaikan tatkala dikeluarkan dari kubur! Wajah mereka bersinar putih sebagai tanda kebajikan yang telah mereka lakukan. Mereka keluar dari kubur dengan tanda tersebut sebagai anugerah dari Allah Zat yang Mahamulia. Para malaikat menyambut mereka sembari berkata, “Inilah hari yang telah dijanjikan kepada kalian”. Bayangkanlah tatkala Allah ta’ala berkata, “Wahai para malaikat-Ku, masukkanlah para hamba-Ku ke dalam surga yang dipenuhi berbagai kenikmatan, masukkanlah mereka ke dalam keridaan yang agung.” Segala puji bagi Allah, mereka pun hidup dalam kehidupan yang menyenangkan. Surga-surga dibukakan bagi mereka, bidadari mengelilingi untuk melayani mereka. Hilanglah sudah, kecemasan dan keletihan yang mereka alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bayangkanlah nasib jiwa yang zalim lagi gemar bermaksiat kepada-Nya. Allah berkata kepada malaikat-Nya, “Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Sungguh amarah-Ku telah memuncak terhadap orang yang tidak malu ketika bermaksiat kepada-Ku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jiwa yang zalim lagi penuh dosa menghuni neraka yang menyala dan bergemuruh. Jiwa tersebut senantiasa berangan-angan, jika sekiranya ia mampu kembali ke dunia agar dapat bertaubat kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih. Namun, hal tersebut mustahil terjadi. Maka tertelungkuplah ia di atas keningnya, terjatuh ke dalam jurang-jurang kegelapan dan terombang-ambing di antara tangga-tangga neraka dan lapisan neraka terbawah, terombang-ambing di antara penyesalan dan malapetaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah jauh perbedaan kedua golongan tersebut, antara mereka yang berada dalam surga dan mereka yang berada dalam neraka. Sungguh benar firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ . وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al Infithaar: 13-14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Saudara Tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang membaca risalah ini, rehatlah sejenak dan mari berintrospeksi diri! Jika anda termasuk golongan yang bersegera dalam melaksanakan ketaatan dan peribadatan kepada Allah serta menjauhi maksiat dan kedurhakaan kepada-Nya, maka pujilah Allah atas nikmat tersebut, mohonlah keteguhan kepada-Nya hingga maut datang menjemput dan dengan seizin Allah kenikmatan akan anda raih tanpa ada yang merebutnya darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika anda tidak termasuk di dalamnya, maka segeralah bertaubat kepada Allah dan kembalilah ke jalan petunjuk. Janganlah anda menentang dan senantiasa mengerjakan maksiat, karena hal tersebut akan menghantarkan anda kepada adzab Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh diri anda teramat lemah untuk memikul dan menahan adzab-Nya. Gunung yang tinggi lagi kokoh jika dilabuhkan sejenak di neraka, maka dia akan meleleh dikarenakan panasnya yang teramat sangat. Bagaimana dengan diri anda, wahai manusia yang lemah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin dapat sabar dalam menahan lapar dan dahaga, juga mampu untuk sabar menahan derita musibah dan beban hidup. Namun, demi Allah, Zat yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya, anda tidak akan mampu bersabar dalam menahan azab neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhkanlah diri anda dari azab neraka selama di dunia ini, sebelum penyesalan menghampiri anda dan waktu tidak mampu terulang kembali. Ketahuilah, bersabar untuk meninggalkan perkara yang diharamkan di dunia ini lebih mudah ketimbang bersabar menahan azab-Nya di hari kiamat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudaraku, menempuh jalan keteguhan tidaklah sulit untuk dijalani dan mengekang kebebasan seperti anggapan sebagian orang. Justru, di dalamnya terdapat kebahagiaan, kelezatan, kenyamanan dan ketenangan. Apalagi yang manusia butuhkan di kehidupan ini selain hal tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kehidupan yang diwarnai kemaksiatan dan kedurhakaan, seluruhnya dipenuhi oleh rasa cemas, kemalangan dan kerugian di dunia serta akan dilanjutkan dengan kepedihan azab di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempuhlah jalan petunjuk itu wahai saudaraku dan janganlah dirimu ragu. Sesungguhnya, diriku hanyalah pemberi nasihat bagi diriku sendiri dan bagimu dan sudilah kiranya dirimu menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai diterjemahkan dari artikel “Rihlah ilaa Daaril Qarar” tanggal 23 Dzulqa’dah 1428 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-8785849555149385919?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/8785849555149385919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/risalah-tuk-saudara-tercinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8785849555149385919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8785849555149385919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/risalah-tuk-saudara-tercinta.html' title='Risalah tuk Saudara Tercinta'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-1725045368780242356</id><published>2009-01-16T16:19:00.001+08:00</published><updated>2009-01-16T16:30:40.101+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Mengenal Syaikh Al-Utsaimin</title><content type='html'>Nasabnya: Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wuhaibi At Tamimy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahirannya: Beliau dilahirkan di kota 'Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikannya: Beliau belajar Al Qur'anul Karim kepada kakek dari pihak ibunya, yaitu Abdurahman bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah sampai hafal, selanjutnya beliau belajar Khath, berhitung dan sastra.&lt;br /&gt;Seorang ulama besar, Syaikh Abdurahman As Sa'dy Rahimahullah telah menunjuk dua orang muridnya agar mengajar anak-anak kecil, masing-masing adalah Syaikh Ali Ash Shalihy dan Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al Muthawwa'. Kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz inilah beliau belajar kitab Mukhtasharul Aqidah Al Wasithiyah dan Minhaajus Saalikin Fil Fiqhi, keduanya karya Syaikh Abdurahman As Sa'dy dan Al Ajrumiyah serta Al Alfiyah. Lalu kepada Syaikh Abdurrahman bin Ali 'Audan beliau belajar Fara'idh dan Fiqih. Kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy yang dikategorikan sebagai Syaikhnya yang utama beliau belajar kitab Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Fara'idh, Musthalahul Hadits, Nahwu dan Sharaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin memiliki tempat terhormat dalam pandangan Syaikhnya, hal ini terbukti di antaranya ketika ayahanda beliau pindah ke Riyadh pada masa awal perkembanganya dan ingin agar anaknya, Muhammad Al Utsaimin pindah bersamanya. Maka Syaikh Abdurrahman As Sa'dy (sang guru) menulis surat kepada ayahanda beliau: "Ini tidak boleh terjadi, kami ingin agar Muhammad tetap tinggal di sini sehingga dia bisa banyak mengambil manfaat."&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berkomentar tentang Syaikh tersebut, Syaikh Utsaimin mengatakan: "Syaikh As Sa'dy sungguh banyak memberi pengaruh kepada saya dalam hal methode mengajar, memaparkan ilmu serta pendekatannya kepada para siswa melalui contoh-contoh dan substansi-substansi makna. Beliau juga banyak memberi pengaruh kepada saya dalam hal akhlak. Syaikh As Sa'dy Rahimahullah adalah seorang yang memiliki akhlak agung dan mulia, sangat mendalam ilmunya serta kuat dan tekun ibadahnya. Beliau suka mencandai anak-anak kecil, pandaimembuat senang dan tertawa orang-orang dewasa. Syaikh As Sa'dy adalah orang yang paling baik akhlaknya dari orang-orang yang pernah saya lihat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin juga belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz Hafizhahullah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah guru kedua beliau, setelah Syaikh As Sa'dy. Kepada Syaikh Bin Baz beliau belajar kitab Shahihul Bukhari dan beberapa kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab-kitab Fiqih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengomentari Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsamin mengatakan: "Syaikh Bin Baz banyak menpengaruhi saya dalam hal perhatian beliau yang sangat intens terhadap hadits. Saya juga banyak terpengaruh dengan akhlak beliau dan kelapangannya terhadap sesama manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1371 H, beliau mulai mengajar di masjid. Ketika dibuka Ma'had Ilmi, beliau masuk tahun 1372 H, Syaikh Utsaimin mengisahkan: "Saya masuk Ma'had Ilmi pada tahun kedua (dari berdirinya Ma'had) atas saran Syaikh Ali Ash Shalihy, setelah sebelumnyamendapat izin dari Syaikh Sa'dy. Ketika itu Ma'had Ilmi dibagi menjadi dua bagian: Umum dan Khusus, saya masuk ke bagian Khusus, saat itu dikenal pula dengan sistem loncat kelas. Yakni seorang siswa boleh belajar ketika liburan panjang dan mengikuti tes kenaikan di awal tahun. Jika lulus dia boleh di kelas yang lebih tinggi. Dengan sistem itu saya bisa menghemat waktu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun menamatkan belajar di Ma'had Ilmi, beliau lalu ditunjuk sebagai guru di Ma'had ilmi 'Unaizah sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Syari'ah dan tetap juga belajar di bawah bimbingan Abdurahman As Sa'dy Rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika As Sa'dy wafat beliau ditetapkan sebagai Imam Masjid Jami' di 'Unaizah, mengajar di Maktabah 'Unaizah Al Wathaniyah dan masih tetap pula mengajar di Ma'had Ilmi. Setelah itu beliau pindah mengajar di Cabang Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud Qashim pada fakultas Syari'ah dan Ushuluddin hingga sekarang. Kini beliau menjadi anggota Hai'atu Kibaril Ulama (di Indonesia semacam MUI, pent.) Kerajaan Saudi Arabia. Syaikh Utsaimin memiliki andil besar di medan dakwah kepada Allah Azza wa Jalla, beliau selalu mengikuti berbagai perkembangan dan situasi dakwah di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat, bahwa Yang Mulia Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah telah berkali-kali menawarkan kepada Syaikh Utsaimin untuk menjadi qadhi (hakim), bahkan telah mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan beliau sebagai Ketua Mahkamah Syari'ah dikota Ihsa' , tetapi setelah melalui berbagai pendekatan pribadi, akhirnya Mahkamah memahami ketidaksediaan Syaikh Utsaimin memangku jabatan ketua Mahkamah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin Hafizhahullah memiliki karangan lebih dari 40 buah. Di antaranya berupa kitab dan risalah. Insya Allah semua karya beliau akan dikodifikasikan menjadi satu kitab dalam Majmu'ul Fatawa war Rasa'il.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari www.hatibening.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-1725045368780242356?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/1725045368780242356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/mengenal-syaikh-al-utsaimin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1725045368780242356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1725045368780242356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/mengenal-syaikh-al-utsaimin.html' title='Mengenal Syaikh Al-Utsaimin'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-1281395337282765775</id><published>2009-01-16T15:56:00.002+08:00</published><updated>2009-01-16T16:15:27.913+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Siapa Pembunuh Al Husain Radhiyallahu 'anhuma</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika pada hari Asyura (10 Muharram), Sunni berpuasa atas perintah Nabi , ketika beliau bersabda, artinya, “Ia (puasa) ‘Asyura, menghapus dosa  tahun lalu.” (HR. Muslim). Maka orang-orang Syiah menjadikan 10 Muharram untuk memperingati hari Karbala, yaitu hari terbunuhnya Al Husain bin Ali bin Abi Thalib—radhiyallahu 'anhuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memperingatinya dengan meratap, melukai kepala dan badan mereka dengan senjata tajam. Bahkan balita yang masih dalam gendongan ibunya sekalipun, harus meneteskan darah demi "menyemarakkan" hari Karbala. Seperti itulah orang-orang Syiah mengekspresikan kecintaan mereka kepada Al Husain , salah seorang Ahlu Bait Rasulullah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jika saja mereka mau menapaktilasi sejarah, maka tentu mereka akan sadar bahwa sebenarnya, secara tidak langsung orang-orang Syiah terlibat dalam peristiwa pembunuhan Al Husain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Syiah di Kufah Iraq yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah rutin mengirim surat kepada Al Husain . Mereka mengajaknya untuk menentang Yazid. Mereka mengirim utusan demi utusan yang membawa ratusan surat dari orang-orang yang mengaku sebagai pendukung dan pembela Ahlul Bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Isi surat mereka hampir sama, yaitu menyampaikan bahwa mereka tidak bergabung bersama pimpinan mereka, Nu'man bin Basyir. Mereka juga tidak mau shalat Jumat bersamanya. Dan meminta Al Husain untuk datang kepada mereka, kemudian mengusir gubernur mereka, lalu berangkat bersama-sama menuju negeri Syam menemui Yazid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika Al Husain datang memenuhi panggilan mereka, dan ketika pasukan 'Ubaidillah bin Ziyad membantai Al Husain  dan 17 orang Ahlul Bait di suatu daerah yang disebut Karbala, tak seorang pun dari orang-orang Syiah itu yang membela beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain  yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syiah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait yang gugur bersama Al Husain adalah putera Ali bin Abi Thalib  lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula putera Al Hasan, Abu Bakar bin Al Hasan. Namun anehnya, ketika Anda mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syiah yang menceritakan kisah pembunuhan Al Husain , nama keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Tentu saja, agar orang tidak berkata bahwa Ali  memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama sahabat Rasulullah ; Abu Bakar, Umar, dan 'Utsman. Tiga nama yang paling dibenci orang-orang Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM MERATAPI JENAZAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbunuhnya Al Husain  tidaklah lebih besar dari dibunuhnya nabi-nabi. Kepala Nabi Yahya  telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria  pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa—'alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Umar, Utsman, dan Ali  terbunuh. Dan mereka jelas lebih utama dari Al Husain . Sehingga jika meratapi kematian Al Husain adalah sebuah kebaikan, tentulah terbunuhnya mereka lebih pantas untuk diratapi. Tapi apa kata Rasulullah ?&lt;br /&gt;“Dua perkara yang menyerupai (perbuatan orang-orang yang) kufur di tengah manusia, yaitu: Mencela keturunan dan meratapi mayat.”(HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek-robek saku dan berseru dengan seruan-seruan jahiliyah (pada waktu berduka).” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak hadits Rasulullah  yang menyebutkan ancaman bagi para peratap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, seorang Muslim jika tertimpa musibah mengucapkan apa yang Allah  perintahkan dalam firman-Nya, artinya,&lt;br /&gt;"Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata, innaa lillahi wa innaa ilaihi roji'un." (QS. Al Baqarah: 156).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah pada hari ‘Asyuro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANUSIA MENYIKAPI PEMBUNUHAN AL HUSAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyikapi terbunuhnya Al Husain , manusia terbagi menjadi tiga kelompok:&lt;br /&gt;Kelompok pertama: Mereka mengatakan bahwa membunuh Al Husain adalah sesuatu yang benar, karena beliau telah keluar dari pemerintahan yang sah dan akan memecah belah persatuan kaum Muslimin. Mereka mengutip sabda Rasulullah ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa datang kepada kalian sedang urusan kalian dipimpin oleh seorang imam dan orang itu ingin memecah belah jamaah kaum muslimin makabunuhlahdia”(HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka Al Husain bermaksud memecah belah persatuan kaum Muslimin. Dalam hadits di atas disebutkan, ''maka bunuhlah siapa pun dia", maka membunuh Al Husain juga dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini dikemukakan oleh an-Nashibah, yaitu sekelompok orang yang membenci Al Husain dan Ali-radhiyallahu 'anhuma.&lt;br /&gt;Kelompok kedua: Al Husain adalah imam yang wajib ditaati dan diserahkan segala urusan pemerintahan kepadanya. Inilah pendapat orang-orang Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketiga: Mereka adalah Ahlussunnah wal jama'ah, mereka berpandangan bahwa Al Husain  dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin). Dan beliau tidak dibunuh sebagai orang yang keluar dari jamaah, namun dibunuh secara zhalim dan gugur sebagai syahid. Rasulullah  bersabda, "Al  Hasan dan Al Husain adalah pemimpin para pemuda di surga." (HR. Tirmidzy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP YAZID TERHADAP TERBUNUHNYA AL HUSAIN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullah, "Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan  menjadi penguasa negeri Iraq."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kabar tentang terbunuhnya Al Husain  sampai kepada Yazid, maka nampak terlihat kesedihan di wajahnya dan suara tangisan pun memenuhi rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum wanita rombongan Al  Husain  yang ditawan oleh pasukan Ibnu Ziyad pun diperlakukan secara hormat oleh Yazid hingga mereka dipulangkan ke negeri asal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku-buku Syiah, mereka mengangkat riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Ahlul Bait yang tertawan diperlakukan secara tidak terhormat. Mereka dibuang ke negeri Syam dan dihinakan di sana sebagai bentuk celaan kepada mereka. Semua ini adalah riwayat yang batil dan dusta. Justru sebaliknya, Bani Umayyah memuliakan Bani Hasyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan pula bahwa kepala Al Husain  dihadapkan kepada Yazid. Tapi riwayat ini pun tidak benar, karena kepala Al Husain  masih berada di sisi Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH TERHADAP YAZID BIN MU'AWIYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian membolehkan melaknat Yazid bin Mu'awiyah, namun adapula yang melarangnya. Bagi yang membolehkan melaknatnya, perlu untuk memerhatikan tiga hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Mengetahui dengan jelas bahwa Yazid bin Mu'awiyah adalah orang fasiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakin bahwa Yazid tidak pernah bertaubat dari dosa-dosanya tersebut. Jika orang kafir yang bertaubat kepada Allah  diampuni, maka bagaimana lagi dengan orang fasiq?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Tahu dengan pasti hukum melaknat pribadi tertentu, bahwa itu dibolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang benar justru sebaliknya, melaknat sosok pribadi tertentu yang Allah dan Rasul-Nya tidak melaknatnya dilarang. Beliau bersabda ketika orang-orang melaknat Abu Jahl,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah menyerahkan apa yang telah mereka perbuat." (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam tidak dibangun di atas celaan sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah. Tapi dibangun di atas akhlak mulia. Maka celaan dan para pencela, tidak memiliki tempat sedikitpun dalam agama Islam. Rasulullah  bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mencela seorang Muslim adalah kefasiqan, dan membunuhnya adalah kekufuran."         (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seorang pun yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah kafir. Tapi, kebanyakan orang mengatakan bahwa ia fasiq. Dan Allahlah yang Mahamengetahui.&lt;br /&gt;Rasulullah  pernah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasukan yang paling pertama menyerang Romawi diampuni." (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, pasukan ini dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Ikut dalam pasukan itu beberapa sahabat yang mulia; Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, dan Abu Ayyub. Penyerangan ini terjadi pada tahun 49 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir—rahimahullah—berkata, "Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula terbunuhnya sejumlah sahabat dan anak-anak mereka dalam peristiwa tersebut. Maka dalam menyikapi Yazid bin Muawiyah, kita serahkan urusannya kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi, "Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya."&lt;br /&gt;Wallahu A’laa wa A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sumber: Diringkas dari kitab Hiqbah minat-Tarikh, karya Syaikh Utsman bin Muhammad Alu Khamis at-Tamimi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-1281395337282765775?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/1281395337282765775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/siapa-pembunuh-al-husain-radhiyallahu_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1281395337282765775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1281395337282765775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/siapa-pembunuh-al-husain-radhiyallahu_16.html' title='Siapa Pembunuh Al Husain Radhiyallahu &apos;anhuma'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-8538498786988610852</id><published>2009-01-16T15:26:00.004+08:00</published><updated>2009-01-16T16:26:50.211+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Neraka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Neraka adalah tempat penyiksaan di akhirat yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir dan orang-orang yang berbuat maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-Nama Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. An-Naar (QS. An-Nisa: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jahannam (QS. An-Nisa: 140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Al-Jahiim (QS. Al-Maidah: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. As-Sa’ir (QS. Al-Ahzab: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Saqar (QS. Al-Qamar: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Al-Huthamah (QS. Al-Humazah: 4-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Lazha (QS. Al-Ma’arij: 15-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Darul Bawar (QS. Ibrahim: 28-29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Bahan Bakar Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bakar neraka terdiri atas batu-batu dan orang-orang yang durhaka kepada Allah, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan orang sebagai bahan bakar neraka adalah orang-orang kafir dan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Mengenai jenis batu yang akan digunakan sebagai bahan bakar neraka, hanya Allah Yang Mahamengetahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bakar lain yang digunakan untuk neraka adalah sesembahan-sesembahan selain Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk kedalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal didalamnya.” (QS. Al Anbiya: 98-99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya Panas Api Neraka dan Jauhnya semburan Asap dan Percikan Apinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air panas yang mendidih, dan dalam bayangan (naungan) asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 41-44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ayat diatas memberi tekanan pada keadaan yang amat mengerikan dari golongan kiri, yaitu para penghuni neraka, maka ayat dibawah ini memberi tekanan pada betapa mengerikannya neraka itu sendiri, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang panas.” (QS Al-Qari’ah: 8-11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah selanjutnya menerangkan betapa kuat dan menyiksanya api neraka itu, “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) saqar. Tahukah kamu apa (neraka) saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka saqar) adalah pembakar kulit manusia.” (QS. Al Muddatsir: 26-29). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api neraka memakan semuanya dan menghancurkan segala sesuatu sehingga tidak ada yang tertinggal. Api itu membakar kulit, dan panasnya terasa sampai ketulang, mengeluarkan dan mencairkan semua isi perut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Api yang kita kenal didunia ini adalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka.” Seseorang berkata, “Ya Rasulullah, sudah cukup, sudah cukup!” Rasulullah bersabda, “Api neraka itu laksana api yang kita kenal ditambah lagi 69 bagian yang setara.” (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni neraka yang akan tinggal kekal di dalamnya, yang tidak akan pernah keluar dari dalamnya dan tidak akan pernah mati, adalah orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-A’raf: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahannam, Mereka tidak dibinasakan, sehingga mereka tidak mati dan tidak (pula) diringankan dari azabnya.” (QS. Fathir: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah menjanjikan neraka untuk orang-orang munafik, janji yang tak akan diingkari-Nya, “Allah mengancam orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka. Dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At-Taubah: 68).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tidak kekal didalam neraka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka dan dikeluarkan kembali setelah beberapa lama, diantaranya adalah orang-orang beriman yang tidak menyekutukan Allah, tetapi dosa-dosa mereka lebih berat daripada amalan baik mereka. Mereka akan berada di neraka untuk jangka waktu yang lamanya hanya Allah yang tahu, kemudian mereka akan dikeluarkan dari neraka berkat syafa’at atau perantara para nabi. Allah juga akan mengeluarkan dari neraka, dengan kasih sayang-Nya, orang-orang yang tidak pernah berbuat baik sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara dosa-dosa yang telah Allah janjikan akan dibalas dengan neraka seperti membunuh orang tanpa alasan yang sah, makan riba, membuat gambar makhluk hidup, wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, orang-orang yang suka menyiksa makhluk hidup, minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak, bunuh diri, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya Penduduk Neraka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dalil yang menyatakan banyaknya jumlah manusia yang akan masuk neraka, dan sedikit yang masuk surga. Allah berfirman, “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf: 103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh neraka Jahannam akan Kami penuhi dengan jenismu (iblis) dan semua orang diantara mereka yang mengikutimu.” (QS. Shad: 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mengapa begitu banyak orang yang masuk neraka bukanlah karena kebenaran yang tidak sampai kepada mereka. Allah telah mengirimkan seorang rasul untuk memberikan peringatan kepada setiap umat, “Dan tidak ada suatu umat pun kecuali telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24). Banyaknya penghuni neraka disebabkan sedikitnya orang yang menyambut seruan para rasul, sedangkan jumlah orang yang tidak percaya kepada mereka besar sekali. Lagi pula, banyak orang yang menyambut seruan para rasul itu tidak sepenuhnya meyakini kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar kaum mukmin yang berdosa dan masuk neraka adalah wanita. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku melihat neraka, dan aku melihat sebagian besar isinya adalah wanita.” (HR. Bukhari-Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah bersabda, ‘Aku lihat neraka, dan ternyata mayoritas penghuninya adalah perempuan yang ingkar.’ Ditanyakan, ‘Apakah ingkar terhadap Allah Ta’ala?’ Beliau bersabda, ‘Mengingkari suaminya, mengingkari perbuatan baik. Jika kamu selalu berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka, kemudian ia melihat sesuatu (yang tidak menyenangkan) pada dirimu, maka ia berkata, ‘Saya tidak melihat kebaikanmu sama sekali’.” (Muttafaq ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan, Minuman, dan Pakaian Penghuni Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan penduduk neraka adalah dhari’ dan zaqqum, dan minuman mereka adalah hamim, ghislin, dan ghassaq. Allah berfirman, “Mereka tidak memperoleh makanan selain dari dhari’ (pohon yang berduri), yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghassiyah: 6-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhari’ adalah sejenis pohon berduri. Ibnu Abbas berkata, “Pohon ini adalah sejenis pohon berduri yang rendah; apabila ia tumbuh tinggi, ia disebut dhari’.” Qatadah berkata, “Makanan tersebut merupakan salah satu jenis makanan yang paling buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa, ia seperti kotoran minyak yang mendidih dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (QS. Ad-Dukhan; 43-46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan jenis lain yang akan dimakan oleh penduduk neraka bernama ghislin, sebagaimana firman Allah, “Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada makanan sedikit pun baginya kecuali dari darah dan nanah (ghislin). Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Haqqah: 35-37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah azab neraka, biarkanlah mereka merasakannya. Minuman mereka air yang sangat panas dan air yang sangat dingin (ghassaq). Dan azab yang lain serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 57-58). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minuman penduduk neraka yang lain yaitu hamim, “Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya.” (QS. Muhammad: 15). Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman Untuk Penghuni Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka merupakan hukuman yang amat pedih, dengan berbagai macam siksaannya, yang tidak bisa dielakkan oleh para penghuninya walaupun dibayar dengan harga yang paling mahal dari apa yang mereka miliki, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu pula untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab Hari Kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka memperoleh azab yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman yang akan diterima para penghuni neraka akan bertingkat-tingkat. Karena neraka memiliki tingkatan-tingkatan, di mana satu tingkat, hukumannya lebih pedih daripada tingkat yang lain. Rasulullah menceritakan kepada kita hukuman paling ringan di neraka, “Orang yang menerima hukuman paling ringan diantara para penduduk neraka pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang dibawah telapak kakinya ditaruh bara yang menyala, yang akan membuat otaknya mendidih.” (HR. Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan berbagai tingkatan hukuman yang akan diberikan kepada para penghuni neraka, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa: 145). Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl: 88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi berkata, “Hal ini menunjukkan bahwa orang yang kafir karena semata-mata tidak percaya, tidak sama dengan orang yang kafir yang melakukan penindasan, tidak mempercayai Allah, membangkang, dan tidak menaati perintah Allah. Dengan demikian, jelaslah bahwa kaum kafir akan memperoleh berbagai tingkatan hukuman di neraka, sebagaimana yang kita ketahui dari Al-Qur’an dan sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk hukuman bagi penghuni neraka yang digambarkan di dalam Al-Qur’an dan sunnah antara lain yaitu, api neraka yang menghanguskan kulit, air yang menghancurluluhkan isi perut, penyiksaan di wajah, diseret, api neraka yang menjilat jantung mereka, isi perut yang akan dikeluarkan dan terburai di neraka, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Menyelamatkan Diri dari Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekafiran jelas akan mengantarkan kita ke dalam api neraka. Oleh sebab itu, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri kita dari jilatan api neraka adalah dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, dan dengan banyak mengerjakan amal shalih. Allah berfirman, “Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 131-132). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semua umatku masuk surga kecuali yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?” Beliau bersabda, “Siapa yang menaatiku, maka ia masuk surga, dan siapa yang tidak mau menaatiku, maka ia telah enggan.” (Muttafaq ‘alaih).&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensiklopedia Kiamat, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar: Serambi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensiklopedia Islam Al-Kamil, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri: Darus Sunnah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-8538498786988610852?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/8538498786988610852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/neraka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8538498786988610852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/8538498786988610852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/neraka.html' title='Neraka'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-716571655674126243.post-1942643122344025782</id><published>2009-01-16T15:09:00.001+08:00</published><updated>2009-01-16T15:16:21.390+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Bahaya Syirik</title><content type='html'>Dosa yang paling besar adalah syirik kepada Allah Ta’ala. Syirik dibagi menjadi dua macam.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menjadikan selain Allah sekutu atau menyembah selain Allah baik berbentuk batu, pohon, matahari, bulan, seorang nabi, seorang syaikh, binatang, malaikat, dan lain-lain. Ini adalah syirik akbar sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam firman-Nya yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka Dia telah mengharamkan baginya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS. Al-Maidah: 72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa menyekutukan Allah, lalu ia meninggal sebagai seorang musyrik, pastilah ia termasuk penghuni neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar (tiga kali)?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (Muttafaq ‘Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, riya’ saat melakukan amal ibadah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa mengharapkan Tuhannya, maka berbuatlah amal shalih dan tidaklah ia menyekutukan Tuhannya dengan sesuatu dalam ibadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya ialah, ia tidak bertujuan memperlihatkan amalnya kepada orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Riya’, Allah Ta’ala pada saat memberi balasan kepada para hamba atas amal perbuatan mereka berfirman, ‘Pergilah kalian menemui orang-orang yang amal kalian perlihatkan kepada mereka di dunia dan lihatlah, apakah kalian mendapatkan pahala dari mereka.’” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu amal perbuatan yang dilakukan bukan mengharapkan ridho Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membatalkan pahalanya dan menjadikannya seperti debu yang beterbangan, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak ditanya tentang orang yang ikhlas. Ia menjawab bahwa orang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya, sedangkan amal untuk menusia adalah syirik, dan keikhlasan adalah jika Allah menyelematkanmu dari keduanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi. 2008. Al-Kabair, Galaksi Dosa terjemah: Asfuri Bahri. Jakarta: Darul Falah, belajarislam.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/716571655674126243-1942643122344025782?l=muhammad-satrio7.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/feeds/1942643122344025782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/bahaya-syirik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1942643122344025782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/716571655674126243/posts/default/1942643122344025782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-satrio7.blogspot.com/2009/01/bahaya-syirik.html' title='Bahaya Syirik'/><author><name>Muhammad Satrio</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09570828669893632289</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
